Puisi: Hikayat Negeri di Bawah Angin Karya: Sulaiman Juned
Hikayat Negeri di Bawah Angin

Aku
saksikan anak-anak
menghidupi api di kepala. Dari
sudut yang paling sunyi
cinta tergadai atas nama peradaban
kampung. Sedang rindu tersayat
perihnya bersarang di hati.

Aku
saksikan anak-anak
menghidupi api di kepala. Berjalan
dalam kabut. Tak usah
ajarkan aku bagaimana mengalahkan
sepi. Pernahkah engkau menikmati
sunyi dalam keramaian, seperti
sembilu menyayat jiwa. Tak usah
ajarkan aku bagaimana menikmati
cinta. Pernahkah engkau merabakan
sayang dalam pekat tak bertepi. Tak usah
ajarkan aku bagaimana siang dan malam
tanpa bintang juga matahari
bergasing atas kepala. Tak usah
ajarkan aku bagaimana bulan
purnama dan sabit saling hilang
terkadang  gerimis menepi di pipi.

Aku
saksikan anak-anak
menghidupi api di kepala. Rentak
guel hilang di sunyi
malam. Tepuk didong tenggelam
di senyap Laut Tawar. Sebuku
renyai di dada pengembara. Di rantau
aku mencium renggali mengurung ruang
kalbu, menyaksikan Bensu Puteri
berkecipak di kolam tenang memanggil-manggil
Malem Dewa kembali ke kamar
cinta. orang-orang di sini senang
berkelahi bersama ombak

: angin dan api mempersiang hati
Ah!

Banda Aceh, 2016
Puisi: Hikayat Negeri di Bawah Angin
Puisi: Hikayat Negeri di Bawah Angin
Karya: Sulaiman Juned

Baca juga: Kumpulan Puisi Bertema Lingkungan Jakarta

Post A Comment:

0 comments: