Kemerdekaan: Kesaksian Seorang Penyair

Kemerdekaan adalah
ketika kita bebas berbicara
tentang hak yang berhak
ketika kita bebas dari pasungan
tidak sembunyi dari ketiak ibu
dan lari dalam ketiak bapak.

Kita sekarang mengeja kemerdekaan
dengan gedung mewah menyundul langit
bersama perempuan-perempuan di panti pijat
perekonomian melarat, kemiskinan sekarat
kita sekarang membaca kemerdekaan
dengan luka. Darah dan laras senapan-menyerahkan
ini punya nyawa-memberikan ini punya harta
(kita belum mampu mengartikan malam).

Ibu, aku menyaksikan air mata darah tertumpah
pada dada memerah. Aku menyaksikan para badut
menggenggam niat busuk-melakonkan pesta canda mengobral
gelisah. Segala perencanaan tersangkut di kantong jas sapari
kolam susu negeriku terkuras habis-membuat istana pribadi
sambil menghitung kekayaan hasil korupsi-naik haji hasil
kolusi-memperbanyak isteri hasil manipulasi;
ibu, berpuluh-puluh tahun kupahat namamu
pada air mengalir
pada batu membeku
pada hati membisu
dan ombak senantiasa menghapusnya.

Ibu, subuh berkabut tersangkut di pucuk rambut
ada luka teramat menyiksa tak teraba. Bunga-bunga
bangsa berkunang airmatanya-terpaksa diyatimkan. Kekuasaan bermata
gelap-memaknai keadilan dan akal sehat; mengapa ledakan peluru
menghukumnya-kuburan sebagai penjara seumur hidup
inilah kesaksian seorang penyair kecil. Kesaksian peradaban menuntun perubahan
(Indonesia! Dari sudut manakah wajahmu kupandang tak jemu)

Aceh, 1989
Puisi Kemerdekaan: Kesaksian Seorang Penyair
Puisi Kemerdekaan: Kesaksian Seorang Penyair
Karya: Sulaiman Juned

Baca juga: Kumpulan Puisi Karya W.S. Rendra Singkat

Post A Comment:

0 comments: