Lindap

Jika bisa memilih, perempuan itu memilahnya perlahan
lalu menuangkan ke dalam bejana cantik
tapi dia berdiri tak menunggu pilihan
di sebongkah batu pinggir jalan, mata nyalang merayu malam

Debu dan gerai rambut sebahu sama tertiup angin malam
Semerbak lumut batu menanti tawaran pahit menjamah tubuh
tertindih, tertikam amarah pedih
hidup tetap hidup tapi perut tak mampu menunggu.

2010
Puisi: Lindap
Puisi: Lindap
Karya: Rini Intama

Baca juga: Kumpulan Puisi Jatuh Cinta
Loading...

Post A Comment:

0 comments: