Patung Dekat Bundaran

Patung itu. matanya tajam
seolah bercerita tentang perjuangan ketika aku lewat di bundaran
kadang ia serupa menangis. karena burung-burung tak lagi hinggap
udara hitam. hujan turun hanya untuk menghanyutkan kanal-kanal
orang-orang datang. orang-orang terus datang!
punggungnya tak cukup kuat sebagai pemanggul
tubuhnya telah terbenam. riuh dan silau lampu-lampu
klakson serta mulut yang mengumpat
semua saling bercepat langkah dan memburu
"apakah kau perantau yang baru datang?
bersiaplah, kota ini akan tenggelam!"
tak aku dengar suaranya. tapi orang-orang kian gegas dan cemas
berlari menuju arah matahari

Panas mana yang tak membawa lekang
hujan mana yang tak mengguyur lapuk
dalam kesepian patung itu merawat lumut. tubuh yang rapuh
tahun demi tahun dijinjingnya sebagai sembilu
kadang kudengar ia seperti bernyanyi
tentang dusun-dusun yang ditinggal. tentang kekasih yang malang
atau barisan ibu-ibu merindu
tapi orang-orang datang. orang-orang terus datang!
ia tak sanggup menampungnya
di gedung dan tepi jalan. rumah kontrakan atau pinggir selokan
semua tak lagi berdinding beda
"kaukah lelaki pencari kata-kata?
di sini yang tersisa hanya tanda tanya!"
aku lihat orang-orang semakin berpacu ke arah matahari

Patung itu. matanya tajam
pagi siang dan malam airmatanya tumpah ke jalan-jalan
"berapa nasib lagi harus kutampung di kota sesempit ini?
mereka berduyun-duyun datang mencari
jantungku bercendawan dalam kehilangan!"
tak aku dengar suaranya. tapi dadaku serasa tertikam.

Puisi: Patung Dekat Bundaran
Puisi: Patung Dekat Bundaran
Karya: Iyut Fitra

Baca juga: Kumpulan Puisi Ibu
Loading...

Post A Comment:

0 comments: