Terkenang Pedati

Petang turun di masa kanak, ia ingat tahun-tahun itu
kerbau-kerbau lewat membawa rumah-rumah
membawa goni padi, antara lenguh dan lecut cemeti
apakah namanya itu, ibu?
Ia bertanya saat gerobak itu berderit-derit setiap hari
pedati, jawab ibunya seraya menutup jendela dan pintu
malam akan turun di dusun itu

Ia ingat malamnya ada rasian yang singgah
bersama pedati ia menumpang sampai ke ujung jalan
sebuntal pakaian dan harapan ia pun sampai di perantauan
lalu lalang, simpang-simpang juga cahaya terang benderang
tak ada lenguh selain riuh, tak pula lecut cemeti selain mimpi
ia merasa terkepung dalam keasingan, ia ingin pulang

Serupa gegas kota, betapa lajunya usia
sebagaimana petang-petang terus turun, ia kembali bertanya
masih adakah pedati itu, ibu?
Tapi ibunya pun sudah teramat tua untuk menjawabnya.

Payakumbuh, 2014
Puisi: Terkenang Pedati
Puisi: Terkenang Pedati
Karya: Iyut Fitra

Baca juga: Kumpulan Puisi Ibu Ciptaan Sendiri
Loading...

Post A Comment:

0 comments: