Puisi: Kasidah Bayang Kang Ngabduh Karya: Abdul Wachid B. S.
Kasidah Bayang Kang Ngabduh

Angin kering
ia dan pohonan mengerang
si sakit yang senja, mau terbaring
di cakrawala
tak ada burung-burung melangit
tak ada jerit hidup siang
langit gosong
di gang penuh lumut, ke arah rel
sisa sinar matahari melukisi tanah
lalu nasibnya berangkat malam

malam-malam kamarnya
dinyalai lampu minyak
seperti malam selalu mempersiap diri
mungkin ada yang nyelinap pintu
yang akan menelan bayangnya
tapi lelaki itu khusuk menuliskan harapan
di jantungnya
seperti sungai memasuki kota
berlumpur darah dan airmata

di kamar itu, ia mengerti
mungkin hidup kembara abadi
seperti pernah didamaikan nasib :
menyusun serpih harapan agar jadi menara roti
atau menderaskan airmata doa hingga muara ;
sebuah kamar sebuah pintu bagi dunia

tapi jangan menjatuhkan bicara
”doa cumalah berjudi dengan harapan”
ngabduh tak menghindar dari geletar trotoar
ia terus menarikan siang dan menuliskan malam
seperti pohon-pohon menjulang sembahyang
ia jelang siang
ia injak bayang-bayang

tapi
saat siang ngabduh terlanjur ada di mana-mana
minyak habis, ikan asin habis, beras habis
hingga istrinya habis tangis
dan hanya airmata yang bicara,
”kami ikut gerilya
ketika itu perut kosong
kepala penuh impian merdeka
dan maut sahabat yang buruk perangainya
tapi kenapa sampai kini bau kematian menyeringai
Gusti, kami hilang harapan dan rupa!”

1992
Puisi: Kasidah Bayang Kang Ngabduh
Puisi: Kasidah Bayang Kang Ngabduh
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi Ibu
Loading...

Post A Comment:

0 comments: