Puisi: Sepasang Mata dan Jalanan Dekat Rumah Karya: Abdul Wachid B. S.
Sepasang Mata dan Jalanan Dekat Rumah

Matahari tenggelam
Langit menjadi lampu retak
Sedang bulan sabit
Dan waktu melesatkan anak panahnya
Menembusmu sekarat
Di trotoar, nasibmu terkapar
Di taman yang ditinggalkan itu

Tapi sepasang matamu masih nyala
Menyaksikan gemuruh perubahan
Sampai ke tengah malam, menciptakan prahara
Sampai sinar rembulan patah sebelum tanah

Dan sepasang matamu menyorot
Gadis datang gadis pergi setengah telanjang
Di trotoar
Membakar ilalang kering di jantung lelaki
Dan para lelaki melemparkan birahi rembulan
Dan gadis-gadis justru menelannya dengan lenguhan
Bulan berpijar dalam perutnya
Melahirkan bayi tanpa sejarah
Bermain di jalanan
Sembari menyanyi “Padamu Negeri”

Ya!
Sepasang matamu yang nyala
Nyalang menatap masadepan yang menjauh
Seperti matahari terbit lari tenggelam
Langit menjadi lampu pecah
Lalu kebisuan
Tinggal trotoar taman yang masih khusuk
Menasbihkan pendaran-pendaran paha
Duh rembulan!
Para lelaki itu pingsan
Di antara lipstik, botol-botol alkohol
Dan asap ganja
Dan kekosongan menjadi satunya tuhan
Yang memabukkan, lantaran darahmu
Terlalu beku untuk berkata

Kini matahari telah terbit
Pohonan dan kembang pinggir jalan
Menggugurkan sunyi dan daunnya
Menimbunmu
Sedang sepasang matamu terus saja nyala
Berkedip-kedip
Di antara botol-botol kosong, sisa sperma
Dan celana dalam yang tertinggal

Ada jeritan sela kabut
Jalanan dekat rumah.

1992
Puisi: Sepasang Mata dan Jalanan Dekat Rumah
Puisi: Sepasang Mata dan Jalanan Dekat Rumah
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi Ibu

Post A Comment:

0 comments: