April 2019
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Hingga Bergetah Ruh ini

selalu saja diammu
memanggil-manggilku dengan isyarat
menerka-nerka aku dalam lugu
hingga rindu menengadah sekarat

selalu saja isyaratmu
berkibar-kibar kemana pun pandangku
mendekat-dekat sulit kudekap
datang-pergimu begitu memerangkap

selalu saja pandang waktu ke waktuku
harap-harap cemas dalam gemas
menunggu-nunggu tak berbalas
datang-pergimu menggilakan aku

selalu saja cintamu 
menajamkan duri-duri sunyi
menusuk-nusuk seluruhku
hingga bergetah ruh ini

hingga bergetah ruh ini
kekasih
kesakitan tersebabmu ini
nikmat sekali.

2003
Puisi: Hingga Bergetah Ruh ini
Puisi: Hingga Bergetah Ruh ini
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi karya Gunoto Saparie
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kisah Kursi Senjahari
(- buat saudaraku di dusun)

Senja tiba-tiba nyala
Disiram minyak amarah. Orang-orang
Dan gelombang suara langit turun di jalanan
Ditabuhi pohon-pohon
Diasapi dupa pahit hidup
Duka dari segala tanya

“Kembalikan kursi itu!”
Seorang muda dari kerumunan meradang
Wajah-wajah sahaja itu berganti rupa nyalang
”Kursi itu milik kami
Dibuat dari kayu-kayu kalbu kami
Dihiasi mutiara keringat
Yang Anda sebut rakyat!”

“Ya. Saat berabad tegak
Justru Anda padanya mengalihkan kiblat?”
Sahut bersahutan dalam gemerincing orang-orang
Seperti ribuan lebah terusik sarang


Tapi para serdadu tak sudi memberi
Justru salak anjing dan peluru memburu
Sehingga gelombang suara dan orang
Berhamburan dari jalanan

Waktu tinggal batu-batu
Lalu senja susut senyap
Dan kota ditimbuni gelap

Tapi seorang ibu itu tak juga beranjak tahu
Ada hangus sisa pembakaran, mosaik-mosaik peluru
Pada tembok kelabu, masih basah darah
Seperti impian buruk kolonialisme kembali

“Tapi, bukankah ini saudara?”
Seorang asing menuliskan seperti syair
Sia-sia. Seperti desir jantung tanyaku yang samar
”Ya. Saudara...”

Malam dan lampu menjilati tepian jalan
Tatkala ibu itu menjerit-jerit
Di dada putranya yang tinggal jasad
”Kenapa harus ditembak?
Kenapa harus seorang bocah yang
Mau mengerti perih hari bapaknya?”

Barangkali sinar rembulan akan meredup
Sementara malam memperpanjang tanya
Kenapa justru seorang-seorang sederhana itu
Kenapa bukan sebuah kursi.

1997
Puisi: Kisah Kursi Senjahari
Puisi: Kisah Kursi Senjahari
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi Malam Sunyi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kidung Larut Malam

Kau di barat
Aku di timur
Jarak dilipat
Rindu pun gugur

Kenapa bertanya
Mula perjumpaan
Kenapa bertanya
Makna dekapan

Kali mengalir
Rembulan mengalir
Cinta tersingkir
Tak perlu ke pinggir

Kita akan mencari
Biarlah hidup menjadi
Jika pun batu benturan
Api birahi bunga bermekaran

Di atas rerumputan
Di antara bebatuan
Kelambu langit terbuka
Hidup kita saling membuka

Bersahutan nafas malam, sayang
Redamkan gersang hidup siang
Matamu dan bintang diperam
Jadikan jeritan megah terpejam

Yang di dalam
Tak mau padam
Ada batu rindu
Lebur redam.

2001
Puisi: Kidung Larut Malam
Puisi: Kidung Larut Malam
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi Orang Tua
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Ujung Nun

Di ujung nun
Jalan bercabang dua
Bila yang satu naik, bila yang satu turun
Lalu langkah kaki bertemu di mana?

Di ujung nun
Jalan mengapa menjelma dua?
Di atasnya ada satu titik takdir
Matahari: di mana cinta tak harus berakhir.

Yogyakarta, Januari 2009
Puisi: Di Ujung Nun
Puisi: Di Ujung Nun
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi karya Sulaiman Juned
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Wajah Puisi

Sampai hari ini aku tidak juga mengerti
bagaimana kelahiran sebuah puisi
berjuta kata mungkin saja ada di kepala
tetapi metafora tidak juga bicara

yang ada hanya kata yang
diindah-indahkan
tetapi bukan kata yang
diindahkan

hingga tiap mata tidak cuma membaca
tetapi tiap mata berkaca-kaca
sampailah sebuah wajah terkaca
utuh penuh terbaca sebagai manusia.

Yogyakarta, 27 Maret 2016
Puisi: Wajah Puisi
Puisi: Wajah Puisi
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Sajak karya Muhammad Lutfi
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pematang Kita

Pematang itu masih utuh
Ada dam. Gejolak diredam
Saat itu tengah bulan jatuh
Nafasmu, lava yang dalam

Pematang itu berlindung malam
Nunggu orang. Suara-suara direndam
Saat itu tubuh saling sentuh
Di rerumputan, pakaian angin luruh

Pematang itu, dam itu
Angin itu, jalanan waktu
Kemegahan percintaan dinyalai cahaya
Teranglah badan-sukma kita

Pematang itu, hari-hari menempuh
Ada dam. Sungai bandang
Hari-hari membentang jauh
Kau di seberang aku di seberang

Pematang itu masih utuh
Meliuk-liuk mencari hari
Di dalam hati : Cinta 
Mengabadikan yang tiada.

2003
Puisi: Pematang Kita
Puisi: Pematang Kita
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Sajak karya Gunoto Saparie
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Syekh Siti Jenar

sebuah cinta di dalam puisi
mengingatkanku kepada penciptaan kali pertama
ketika ia sendirian mereka-reka sunyi
belumlah ada nama-nama

sebuah cinta di dalam puisi
mengingatkanku kepada mimpi indah kali pertama
ketika aku sendirian mereka-reka arti
belumlah ada makna-makna

sebuah cinta di dalam puisi
mengingatkanku kepada mataair bengawan
ketika ia menggemericik dari puncak pegunungan
sesampainya di muara menjelma menjadi

banjir bandang yang
menenggelamkan aku
ke dalam samudera makrifat cinta
sekaligus hujatan sepanjang usia.

Yogyakarta, 7 februari 2016
Puisi: Syekh Siti Jenar
Puisi: Syekh Siti Jenar
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Sajak karya Syamsiar Seman
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kasidah Cinta
(Pak Muh, Sekarjalak, Pati)

setundun pisang di tangan kekasih
tidak ada hati yang
tersisih lantaran cinta selalu gigih
tanpa kata-kata yang berbuih

apakah manusia layak kera
punya suka tetapi tanpa cinta?
sesisir demi sesisir pisang itu lantas
dibagi tamu demi tamu dengan pantas

setiap cinta memberi atau menerima 
senada dengan irama jiwa
tangan kekasih yang
menggubah lagu ataukah gagu layak kera

tetapi tetamu ini dalam ingatan
betapa bahwa diri sebagai khayawan
betapa bahwa manusia melebihi malaikat
bila senyuman kebaikan melukis wajah terlihat

 sesisir demi sesisir pisang itu lantas
dijamu tamu demi tamu dengan pantas
giliran aku termangu tersebab pisang tinggal satu
itu pun telah bosok sisa dipatuk burung hantu

“barangkali inilah cintaku yang
bosok lantaran keakuanku yang sok
sok perhatian kepadamu sok tunduk kepadamu
sok runduk kepadamu sok hilang

aku di dalammu”
majelis malam pulang kembali kepada fajar
salam bersalaman sebelum bubar
kekasihku membisik di telinga hatiku bergetar

“ia yang harap-harap cemas
cintanya sebosok pisang tetapi bukan busuk, sayang
cinta yang jodoh itu justru telah matang 
langsung dari pohonnya”

Yogyakarta, 29 Januari 2016
Puisi: Kasidah Cinta
Puisi: Kasidah Cinta
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi karya Syamsiar Seman
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sekali Pandang

gadis yang 
dulu di senja berjumpa 
menunggu giliran berwudlu
di sebuah surau kecil itu   

pandang mata beradu
udara gagu
detak jantung hampir membeku
dua alis mata bertemu   

sekali pandang itu 
kau aku tidak kembali ke rumah ibu 
tersebab betapa tergodanya kita 
pada indahnya bianglala.

Yogyakarta, 22 desember 2015
Puisi: Sekali Pandang
Puisi: Sekali Pandang
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi karya Rini Intama
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Seekor Domba

seekor domba datang dari masakecil
mengembik di antara batu-batu
lelaki itu heran, bukankah padang rumput hijau
lama lenyap dari pandang, menggigil ia
di antara gantungan-gantungan tangan buskota

tapi tetes darah domba amisnya sampai ke mimpi
ia tak mengerti, bagaimana mungkin
berpuluh kemarau deras angin menghalau kemari
: sebuah rumah kecil, menjorok ke kali
di satu ruang kartonnya, ia disengat dingin

“Gusti, Tuhannya ibrahim,
domba ini tersesat pulang!”

1997
Puisi: Seekor Domba
Puisi: Seekor Domba
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi Malam
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Hujan Gemuruh di Tengah Malam

Hujan gemuruh di tengah malam
Seperti beribu sayap malaikat mendarat
Langit semula benderang ditaburi bintang
Berubah pekat, dan kini dicambuki kilat

Maka terkagetlah orang-orang bercinta
Yang dosa, dan yang mensyukuri surga
Maka makin dinginlah orang-orang trotoar
Yang lapar, dan dahaga dari doa

Hujan gemuruh di tengah malam
Daun-daun gemerincing, pohon-pohon berderakan
Seperti peperangan, malaikat maut mengancam
Mimpi-mimpi buruk dibangunkan oleh kenyataan

Dia yang kemarin memuja tanya, tak sempat lagi bertanya
Ini Tuhan yang melahirkan ketakutan?
Ataukah ketakutan yang melahirkan Tuhan?
Hujan gemuruh di tengah malam

Dia yang gentayangan di jalan malam
Tergoda kepada megah perempuan
Tetapi senantiasa berujung pada ketakberdayaan
Dan Tuhan? Selalu hadir tepat di saat dibutuhkan

Bahkan si Pendosa yang ngrasa pongah
Ini gagah berjalan di jalan-jalan yang salah
Dia terima, menjelma jadi kurcaci di telapak tangan-Nya
Diberinya kehangatan, lalu dia pulang pada ketentraman

Tuhan, Engkau hadir bahkan tanpa diminta
Menguati hati orang-orang yang terjatuh
Oleh derita dan nestapa
Oleh bayang-bayang yang mereka ciptakan sendiri

Setelah capek memanjakan kelamin
Mereka takut pada ketakutannya sendiri
Setelah kenyang menikmati buah-buah dosa
Kini aku pun  menjadi ngeri pada duri-duri kematian

Hujan gemuruh di tengah malam
Hujan menyebar racun ke segenap penjuru malam
Dan di sudut kamar, aku diteror oleh dosa-dosa masa silam
“Tuhan, aku kalut, tak berdaya, aku butuh pertolongan!”

Yogyakarta, 31 Desember 2008
Puisi: Hujan Gemuruh di Tengah Malam
Puisi: Hujan Gemuruh di Tengah Malam
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Sajak karya Iyut Fitra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ibu
Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mata air air matamu ibu, yang tetap lancar mengalir.

Bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

Ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti

Bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu.

Bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal

Ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku.
 
1966
"Puisi: Ibu (Karya D. Zawawi Imron)"
Puisi: Ibu
Karya: D. Zawawi Imron


Kata Kunci:
  • Puisi tentang Ibu Zawawi Imron
  • Puisi Ibu Zawawi Imron
  • Puisi Ibu D. Zawawi Imron
  • Puisi Ibu karya D. Zawawi Imron
  • Puisi Ibu Oleh Zawawi Imron
  • Tema Puisi Ibu Karya Zawawi Imron
  • Larik Puisi Ibu karya D. Zawawi Imron

Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ibu yang

ibu yang menahan diri
ketika aku menjerit terlepas dari rahimnya
dan tersenyum syukur
ketika aku mengenal bahasa lewat tangis

ibu yang menahan diri
di saat aku mengenal dunia
melintasi jalan siang jalan malam
menikung, terserimpung oleh bingung

siapa aku? darimana?
apa yang menjadikan diri lebih berarti
hingga ke mana hari-hariku
akan pergi abadi?

ibu yang menahan diri
meladeni makan anak-anak dan suaminya
ibu memilih kepala dan ekor ikan untuk lauknya
sedangkan daging lauk ikan untuk anak-anaknya

ibu yang menahan diri
dari perhiasan di badan
demi perhiasan perilaku
anak-anaknya di kota mencari ilmu

ibu yang menahan diri
secemas cinta sedemam doa
senyawa nyala "bismillah"
dalam bilangan yang tidak terbilang

ibu yang
menahan diri dari lapar dan dahaga
dari bulan sabit sampai purnama raya

ibu
pertapa yang meraih rembulan
hinggap di keningnya

Bluluk-Yogyakarta
24 agustus 2012
Puisi: Ibu yang
Puisi: Ibu yang
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi karya Iyut Fitra
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pada awalnya, tas tangan alias handbag hanya difungsikan untuk membawa berbagai barang-barang saja. Seiring dengan berjalannya waktu, kini tas pun menjadi salah satu tren fashion yang tentu saja dapat menunjang penampilan kita. Terlebih untuk kaum perempuan, dimana merekalah yang paling aktif dalam urusan handbag tersebut. Handbag yang pada zaman sekarang ini ada banyak sekali jenis dan modelnya, sehingga kita bisa memilih yang sesuai dengan selera. Namun yang jadi pertanyaannya disini, apakah diantara kalian ada yang tahu bagaimana sejarah terciptanya sebuah tas? Nah, untuk mengetahui lebih jelasnya lagi mengenai sejarah terciptanya tas, mari sama-sama kita simak saja langsung ulasannya di bawah ini.

Tas Tangan


Sejarah Awal Mula Terciptanya Tas di Dunia

Pada zaman dahulu, tas hanya terbuat dari material berbahan sederhana seperti kulit sintetis, kain dan vinyl. Pasalnya, bahan kulit asli pada masa itu sangat langka sehingga harganya pun sangat mahal. Alhasil, para pengrajin tas mensiasatinya dengan menggunakan bahan kulit sintetis sebagai bahan baku pembuatan tas. Kulit sintetis cukup mendominasi sebanyak 60 % dari tas kulit yang beredar di pasaran. Tak hanya bahan kulit sintetis, terdapat juga paper bag atau kertas tebal yang pada masa Dinasti Tang digunakan oleh bangsa China untuk membuat tas. Ya, tas tersebut biasanya digunakan untuk membawa berbagai barang-barang, termasuk membawa hasil perkebunan.

Jika bangsa China menggunakan tas untuk mengangkut hasil panen, lain halnya dengan bangsa Eropa yang menggunakan tas tersebut sebagai pembungkus roti. Seiring dengan berjalannya waktu, muncullah tas berbahan plastik yang di edarkan di pasaran secara masif. Hingga sampai saat ini, tas berbahan plastik sangat mudah dijumpai baik di pasar tradisional maupun supermarket.

Menurut catatan sejarah, tas pertama kali di gunakan oleh bangsa Mesir Kuno pada abad ke 14. Kendati demikian, ada pihak lain yang mengatakan bahwa bangsa Mesir Kuno telah menggunakan tas pinggang untuk menunjang rutinitas keseharian masyarakatnya. Teknik menyulam dan motifnya pun mencerminkan tentang status sosial dari penggunanya. Ya, semakin banyak hiasan yang menempel pada tasnya, maka orang tersebut termasuk golongan menengah ke atas.

Memasuki abad ke 16, terciptalah tas tangan alias handbag yang lebih mudah dan praktis untuk digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Materialnya terbuat dari bahan kulit, yang terdapat kancing sebagai pengikat pada bagian atasnya. Pada abad ke 17, barulah muncul tas yang lebih fashionable, dengan berbagai macam model dan ukuran yang tersedia. Akan tetapi, tas jinjing pada masa tersebut lebih populer yang berukuran kecil. Pada masa itu juga kaum wanita selalu membuat tas sulaman yang sangat indah, serta digunakan untuk menghadiri acara-acara formal seperti pesta pernikahan dan lain sebagainya.

Lambat laun, banyak bermunculan tas-tas dengan model terbaru yang mengusung desain modis dan lebih stylish. Pada abad ke 18, terciptalah tren busana wanita bergaya neo classical yang berupa pakaian minim atau terbuka. Tren busana ini pun dibarengi dengan populernya tas tangan, yang biasa mereka gunakan untuk menunjang penampilan saat menghadiri acara-acara formal. Tak hanya itu saja, tas tangan tersebut juga mempunyai fungsi yang berbeda-beda, yang tergantung dari jenis dan ukuran tasnya.

Itulah sejarah mengenai awal mula terciptanya sebuah tas di dunia. Nah, jika anda sudah mengetahui tentang sejarah, mari kita berlanjut ke pembahasan intinya mengenai brand tas tangan terbaik dan terpopuler di dunia seperti di bawah ini.

1. Bonia
Banyak yang beranggapan bahwa Bonia ini adalah sebuah brand asal Eropa atau Amerika Serikat. Namun tahukah kamu? ternyata Bonia ini adalah brand fashion yang berasal dari Negeri Jiran, Malaysia lho. Bonia juga dinobatkan sebagai salah satu brand fashion asal Asia Tenggara yang terbaik dan terpopuler di dunia. Hal itu pun terbukti, dimana produk-produk Bonia sudah tersebar hingga ke berbagai belahan Negara. Dan salah satu produknya yang sangat laris di pasar internasional, yakni berupa handbag alias tas tangan. Tas handbag besutan Bonia ini memang mengusung desain yang begitu mewah, glamour dan elegan, sehingga selalu menjadi pilihan utama bagi para konsumennya. Adapun mengenai harga yang ditawarkannya mulai dari Rp 600 ribuan hingga Rp 4 jutaan.

2. Longchamp
Di urutan kedua ada Longchamp, yang merupakan sebuah brand fashion ternama dunia. Pada mulanya, perusahaan Longchamp hanya memproduksi dompet khusus wanita dan cover yang terbuat dari bahan kulit. Namun, kini perusahaan fashion asal Paris ini memproduksi tas tangan yang juga dengan bahan dasar kulit sintetis dengan kombinasi nylon. Tas Longchamp menawarkan desain yang sangat kental dengan aroma glamour, mewah, dan elegan. Soal harga, tas Longchamp dimahar dengan harga kisaran Rp 700 ribu hingga Rp 7 jutaan. 

3. Gucci
Siapa sih diantara kita yang tidak kenal dengan brand Gucci? Ya, tentu saja kita sudah sangat kenal betul dengan brand yang satu ini. Gucci itu sendiri merupakan brand fashion ternama asal Italia, yang memproduksi berbagai produk fashion wanita seperti tas, kacamata, aksesoris, sepatu, jam tangan, dan lain sebagainya. Mengenai harganya, tas Gucci ini dibanderol dengan kisaran harga Rp 535 ribu hingga Rp 43 jutaan lho. 

4. Fossil
Ini dia salah satu brand fashion yang memang tidak perlu diragukan lagi akan kepopulerannya. Ya, terang saja demikian, sebab produk-produk dengan brad Fossil ini selalu menonjolkan akan kualitas dan desain khasnya yang elegan serta glamour. Begitu pula dengan produk tasnya, sehingga tak heran jika banyak diburu oleh wanita diseluruh dunia. Harga yang ditawarkannya pun sangat bervariasi, mulai dari Rp 500 ribu hingga RP 4 jutaan.

5. Armani
Armani juga merupakan salah satu brand tas wanita terpopuler dan terlaris di dunia, yang didirikan oleh Giorgio Armani. Perusahaan fashion asal Italia ini memang terkenal dengan produk tasnya yang bergaya mewah, sehingga pasarnya pun menargetkan kalangan menengah keatas. Selain memproduksi tas, Armani juga memproduksi barang-barang lainnya seperti aksesoris, perhiasan, kacamata, kosmetik, jam tangan, sepatu, hingga interior rumah.

6. Chanel SA
Chanel SA merupakan perusahaan fashion swasta asal Perancis, yang digawangi oleh Alain dan Gerard Wertheimer, yang merupakan mitra bisnis dari seorang desainer bernama Bonheur Chanel. Brand Chanel menyajikan beragam fashion seperti tas, aksesoris, blouse, blazer, gaun, celana, perhiasan, dan lain sebagainya. 

7. Dolce & Gabbana
Dolce & Gabbana atau yang sering disingkat dengan nama D&G, merupakan sebuah brand fashion asal Italia. Brand D&G ini dibentuk oleh sang desainer sekaligus pemiliknya bernama Dolce dan Stefano Gabbana. Tas ebsutan D&G ini memang menonjolkan aroma kemewahan, glamour, dan elegan. Alhasil, produknya pun menargetkan pasar kelas menengah keatas. Selain tas, produk aksesoris dari D&G juga sudah terkenal sampai ke berbagai belahan Negara.

Itulah beberapa brand tas terbaik yang direkomendasikan bagi anda. Nah, bagi anda yang ingin belanja tas tersebut secara online, silahkan kunjungi situs ilotte.com yang merupakan Indonesia online shopping barang original terpercaya.
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Doaku

Slalu tersedu
panggil memanggil slalu

Tuhan
duniaku hanya kata
sambil pejam mata

Tuhanku
hanya segala punya-Mu
melalu slalu muara pada-Mu
tak arti terlingkup sungguh suci-Mu

Tuhan
Bumiku sungguh
kenal darah dan sampah

sebelum beku aku
panggil memanggil slalu
pada-Mu.

Maret, 1988
Puisi: Doaku
Puisi: Doaku
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Sajak karya M. Nurgani Asyik
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Setiap Hurup
(-K.H. M. Sahal Mahfudz)

Setiap hurup yang
dituliskan setiap hurup yang
diucapkan: kebaikan yang

indah tak terbilang

seperti menulis di atas batu
menjadi prasasti yang
tidak terhapus oleh lumut waktu

tetapi hurup yang
terucap dari bibirku orang-orang yang
lalu-lalang bagai ilalang

di batin guru justru bagai menulis di atas air
terus saja mengalir
kepada hilir permaafan tanpa petir

hingga telinga menjadi radar semesta yang
hubungkan kemakhlukan dan kemahaan
hyang

setiap hurup yang
menderas di nadi-nadi jiwa raganya hanya
hyang

hingga semesta hati manusia
menjadi perpustakaan yang
menyimpan rapi hurup-hurup cintanya

seekor kupu di pagi jumat itu
mengisyaratkan
salamnya abadi

Yogyakarta, 24 januari 2014
Puisi: Setiap Hurup
Puisi: Setiap Hurup
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Sajak karya Sulaiman Juned
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Wajah

Wajah hitam itu muncul dari mimpimu
Wajah hitam itu memantul di kamar mandi
Lalu mengendap di dalam hati
Ada apakah dengan matamu ini?

Wajah hitam ataukah wajah putih
Wajah kuning wajah warna-warni yang menagih
Di manakah hatinuranimu tegak
Apakah dia menjadi cagak?

Wajah hitam itu tentu bukanlah cermin
Nurani kau aku yang tergadai
Lantaran Bilal pun hitam
Adanya hitam, mengadalah putih

Wajah hitam itu mungkin wajahku yang
Terlupa dari berwudlu tersebab rindu
Kepadamu begitu kepayang
Tetapi cinta senantiasa menjaga kepada cahaya

Tetapi cahaya senantiasa berjaga kepada cinta
Seperti aku yang menjadi tongkat bagimu
Ketika malam-malam tanpa nyala maka
Wajah hitam itu memantul di kamar mandi

Tetapi kau aku tidak akan takut
Biarlah wajah hitam itu mengiri
Memandangi kau aku dalam dekap rindu yang akut
Di sini yang tidak mampu dia masuki

Di sebuah ruang yang bernama
Hati!

Yogyakarta, 12 Juli 2012
Puisi: Wajah
Puisi: Wajah
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi karya J. Kamal Farza
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Semoga Cinta

Semoga cinta menjadi air 
yang mengisi tubuhmu dengan kemegahan
Semoga cinta menjadi udara 
yang mengaliri nafasmu sebagai kesegaran
Semoga cinta menjadi api 
yang memberi terangmu jalan siang jalan malam
Semoga cinta menjadi bumi 
yang mensujudkanmu dan berjalan memulai hari-hari
Semoga cinta menjadi tubuh 
yang menjadi kau dikenali dan mengenali 
sampai kau miliki nama dan makna dari
kemarin dan esok dan hari ini
Semoga cinta menjadi ruh 
yang berdetak meniup-niup nadimu
Semoga cinta menjadi mata 
yang melihat dan dilihat dan menandai kau aku ada
Semoga cinta menjadi
kau mencintaiku 
aku mencintaimu
Semoga cinta menjadi
diri mengenali Cinta

Amiin...

2003
Puisi: Semoga Cinta
Puisi: Semoga Cinta
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi karya Presiden Rex
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Anak

Anak,
pesawat yang layangkan aku ke firdausi

domba yang hilang di padang ilalang
butir tasbih yang tercecer
jam-jam lalu melumer
terbanting sudah hidup dalam bayang-bayang

Anak, 
pesawat yang layangkan aku ke firdausi

domba-domba yang dikorbankan untuk persembahan
segala kebajikan yang disajikan 
akankah berujung pada 
cinta?

Anak, 
pesawat yang layangkan aku ke firdausi

domba di padang ilalang itu telah hilang
sudah kucari-cari dari mana mau ke mana
segala cinta yang kita peran
pastikan berujung pada Cinta 

sekalipun usia cuma bayang-bayang 
aku dan ibumu mengimani
pada saatnya
anak adalah peleburan Cinta

firdausi
pesawat yang layangkan kami ke 
firdausi.

2003
Puisi: Anak
Puisi: Anak
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Sajak karya Presiden Rex
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Gendam Gerimis

Jalan itu, taman-taman, tiap perhentian
: Kau dan aku
Gubuk di sawah itu, rumputan, tiap bebatuan
Kata-kata dan percintaan
Saling memagut, saling memasuki
: Kau dan aku
Segala dan semua menjadi kemabukan
Keakuan luruh

Seperti sore ini, di antara garis-garis gerimis
Di tikungan jalan
Biasa kau atau aku menunggu
Baju biru, payung merah jambu
Dibalut kerudung kebiruan itu
Cahaya memancar dari dalammu
Di antara ada dan tak ada
Tinggallah kerling matamu terpahat di langit
Di antara garis-garis gerimis
Aku menjerit tanpa bahasa
Aku tak tahu lagi kepedihan
Segala anggur kemarin yang kautuang
Memabukkanku
Semua yang bernama kebahagiaan
Kuyakin tak mungkin berbunga luka?
Aku tak tahu lagi, tapi merasai

Aku mencintaimu dengan cinta
Cinta yang menarik semua aku
Cinta yang sembunyikan aku di balik kecantikanmu
Aku tak tahu lagi, tapi menghayati

Seperti sore ini, di antara garis-garis gerimis
Di saat tertulis puisi di lipatan lidah
Barangkali maklumi hasrat besar padamu
Kau isyaratkan kerlingan
Di mana aku? Siapa aku?
Gairah seluruh cinta memenuh
Tersebab sabdamu.

2003
Puisi: Gendam Gerimis
Puisi: Gendam Gerimis
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Sajak karya Mustiar AR