Angan Kemarau

Pada ceruk kelembutan. Ingin kumasukkan angin musim kemarau yang membarakan sukma. Jarum jam menusukkan detiknya ke pusar malam. Telanjang, menjadi semerbak mawar dan lilin yang meleleh. Demikianlah sungai menemukan muaranya. Untuk sampai, seorang lelaki mengayuh perahu, mengikut gelombang, sebelum menggelepar di pasir putih.

Siang beranjak ke malam. Melintasi rumah kosong, keriuhan jalan raya, sampai mulut pantai dengan karang, lokan, dan pasir menusuki kaki. Hiu dan lumba-lumba berloncatan gelisah di dadaku. Aku tersaruk dengan sepatu di kepala. Mendirikan rumah dan jalan di pasir. Untuk kangen yang gila. Meluncurlah perahu-perahu itu di kedua mataku. Ingin banget memasuki gua karangmu. Agar lelaki menggelepar menjadi pasir keperakan. Minggu-minggu sebelum gagu. Hari-hari berlepasan dari cengkeraman malam dan tanah.

Pada arus gelombangmu. Ingin kulebur diri. Seperti pelukan Bapak Adam dan Ibu Hawa di perbukitan purba. Atau bayangkan saja di sepanjang pantai dengan kefanaannya. Tubuhku dirambati akar-akar keharuman. Gairah yang mendesak. Angin musim kemarau membakar hidup yang prosa. Yang hanya bisa terpejam oleh air murni. Yang meluncur dari ceruk kelembutanmu.

1998
Puisi: Angan Kemarau
Puisi: Angan Kemarau
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi Sahabat

Post A Comment:

0 comments: