Telepon
(- gus munif)

di pagi itu
aku dan kasihku diayunkan oleh waktu
di kabut itu
guruku menelpon hatiku
tetapi hatiku terlanjur berlumpur
tetapi telingaku seolah tuli
telepon guruku kuulur
-ulur
tidak ada jawaban, lalu mati
pada panggilan yang ketiga
jiwaku masih juga terjaga
telepon guruku kuangkat
tetapi tubuhku terikat oleh maksiat
di beranda yang bernama dunia
lalu lalang ilalang dan orang
sama jalangnya, sama gila
lalu lalang mobil menerjang
debudebu menebalkan wajahku
debudebu membatukan aku
debudebu menjadikan aku
debudebu merindukan aku
kepada sebuah cermin besar
sekalipun aku harus kesasar
di perbukitan yang
megah dan menghanyutkan
telepon masih juga bicara
guruku masih juga berjaga
dengan wasiat 40 fatihah
aku terperangah, lelah
kepada sebuah cermin besar
sekalipun aku harus kesasar
di perbukitan yang
megah dan menghanyutkan
dari perbukitan inilah
debu kau aku kelak
semoga berubah
menjadi serpihan cahaya.

Purwokerto, 20 November 2014
Puisi: Telepon
Puisi: Telepon
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi Cinta

Post A Comment:

0 comments: