Dalam Kota di Atas Pasir

Angin menghilang
di jalan dulu ada yang selalu menyerupai dirimu -
pohon yang meneteskan air, gerak bayang sepanjang trotoar,
atau suara handphone dalam tas. Dengan hati-hati kubenahi
setiap ingatan. Dan belum juga kutemukan perumpamaan
yang sesungguhnya dari kejahatan dan keindahan

Di kedai kopi yang dulu juga kutemukan
potongan-potongan kukumu di atas meja

Kota ini didirikan di atas pasir basah
rumah-rumah seolah terbuat dari kain tetoron. Jalanan
melayang dengan tiang-tiangnya yang bertumpu pada batu karang
dan aku menemukanmu jauh sebelum orang-orang memastikan
kota ini dengan sebuah nama. Kini, dan kini, menyebut
namamu adalah menjadi seseorang dalam adegan
di relief-relief candi ketika kejahatan
dan keindahan menjadi kutukan

Setiap malam aku terjaga. Ke dalam ingatanku
kau telah menjelma lorong-lorong rumah sakit
sejak itu di kota ini aku hidup bersama
seorang lelaki dengan telinganya
yang selalu berdenging

Angin menghilang
di pasir basah tengah malam kota ini
akan tenggelam. Di jalan dulu kubenahi
setiap ingatan. Pada semua yang menyerupai
dirimu kupulangkan kembali seluruh perumpamaan
dan nama-nama, setelah aku menghancurkannya
berulang kali

Dan lewat sepasang matamu selalu kutemukan
perumpamaan berikutnya dari kejahatan dan keindahan
yang menjadi kutukan. Sepasang mata yang mengawasiku
dari potongan-potongan kuku di atas meja.

2009
Puisi: Dalam Kota di Atas Pasir
Puisi: Dalam Kota di Atas Pasir
Karya: Ahda Imran

Baca juga: Kerjasama Content Placement
Loading...

Post A Comment:

0 comments: