Epilog Sebuah Pagi

Dalam kemuraman cahaya pagi
Kuterka daun-daun gugur dan menghijau
Kembali. Kemudian tik-tik gerimis
Suara gelap malam hari yang kerap runtuh
Menerpa tubuh-tubuh tak terjaga
Akan membentang laut di atas ranjangMu

Pun di antara desakan massa berseragam
Pernah kudengar bisikmu tertahan:
“Kami ingin berkemas untuk sebuah pantai yang tenang.
Lihatlah tangan kami berdarah setelah lama bertempur
Di hutan-hutanmu yang bagaikan peri
Menyihir lolong serigala jadi anjing penjaga!”

Kini kuterka lagi bila saatnya tiba
Dermaga hanya bisa mencintai satu musim seperti kami
Yakni ketika pasang terulur ke arah utara
Dan kanak-kanak turun berlari menyoraki
Seribu perahu sarat kepedihan
Terdampar di muka pintu rumahmu.

Namun semoga hanya pikiranku terlalu jauh menyusur laut
Hingga mataku tak lagi mampu bersembunyi
Dari setiap isyarat, kenangan, atau tanda bahaya.
Maka dengan sopan aku pun belajar menghikmati langit
Dengan cahaya bintangnya yang selalu rapi
Menyimpan degup jantungku.

1994
Puisi: Epilog Sebuah Pagi
Puisi: Epilog Sebuah Pagi
Karya: Arif Bagus Prasetyo

Baca Juga: Kumpulan Tips Blog SEO
Loading...

Post A Comment:

0 comments: