Puisi: Ibu, Aku Minta Dibelikan Mushola Karya: Andy Sri Wahyudi
Ibu, Aku Minta Dibelikan Mushola

Sewaktu kecil aku rajin mengaji. 3x seminggu,
Ustadzah emi datang ke rumahku
setiap malam sehabis mahgrib. Belajar baca iqro
membuatku susah tidur.
“Bu…aku takut dengan huruf arab,” keluhku
sehabis mengaji
“Huruf arab kan bukan hantu?” dengan sabar
ibu menjawab
“tapi bentuknya runcing-runcing mirip pisau
belati”
Ibu tersenyum sambil membelai rambutku
“Kalau aku salah baca, si huruf ta dan ya
menertawaiku,” sambungku
“Ah, kamu ada-ada saja.” Ibu mengusap pipiku
“Benar Bu, giginya juga tajam mengerikan, aku
takut Bu.” Langsung kusembunyikan mukaku di
bawah ketiak ibu sampai pagi tiba
Di sekolah, bu nanik guru sd-ku membimbingku
berdoa bapa kami,
Aku percaya, dan salam maria.
Saat semua murid menunduk dan memejamkan
mata, aku berjoget kecil ala cris-cros, penyanyi
rap idolaku waktu itu, seirama dengan doa.
Kadang aku takut kalau patung ibu maria dan
bapa kami yang berdarah itu melirikku.

Di bawah asuhan ustadzah emi dan bu nanik,
aku sudah bisa membaca surat al fatihah dan al
ikhlas sekaligus doa bapa kami dan salam
maria. Tuhan yang maha esa pasti bangga
mendengarnya. Aku senang berangkat sholat
isya bersama ibu, karena aku selalu di belikan
permen sugus. Aku juga senang berdoa bapa
kami di depan bu nanik, karena dia pasti
tersenyum dan kelihatan cantik.
“Sayang…, kalau mau sholat, wudhu dulu biar
bersih dan suci,” jelas ibu
“Nggak ah bu, aku takut masuk angin, wudhunya
besok aja pakai air hangat.”
Aku sholat di samping ibuku dan suka berlama-
lama saat adegan sujud bersama.

Suatu hari di bulan puasa, aku menangis
meronta-ronta minta dibelikan mushola agar
bisa sholat sendiri tanpa diawasi panitia
tarawih yang galak, sok idih dan suka pacaran.
“Bu, belikan aku mushola,” rengekku setiap
menjelang tidur.

Tak terasa sudah 25 tahun, aku sudah
lupa mushola dan ibu semakin tua tapi ia masih
rajin sembahyang di mushola. Katanya aku
pemuda ketinggalan jaman, tidak tahu
perkembangan agama. Oke, aku ikut ibu
sembahyang. Tumben ia tak mengenakan rukuh
dan mukena coklat mudanya. Ibu berjalan riang
gembira dengan urai rambut keperakan-nya.
Ibuku tuh meski sudah tua lincahnya buju bushet
dah.

10 menit kemudian, kami sudah sampai di
mushola.
Ooh...aku merasa kaku, kikuk, serba salah
dan wagu saat ibu mengajariku menari,
membuat prakarya, dan puisi di mushola.
Sempat juga ia berdendang lagu dari sabang
sampai merauke dan garuda pancasila.
“Sori kali ini tak ada permen sugus buatmu
sayang....bertahun-tahun ibu menabung, dan
besok pagi kita ke supermarket beli mushola!”
Katanya sambil asyik menari.

Semoga hari-harimu indah dan menyenangkan
ibuku....

Jogjakarta, 2006
Puisi: Ibu, Aku Minta Dibelikan Mushola
Puisi: Ibu, Aku Minta Dibelikan Mushola
Karya: Andy Sri Wahyudi

Baca Juga: Kumpulan Lagu Terbaik Rachel Platten

Post A Comment:

0 comments: