Puisi: Menimang Sejarah, Menangisi Airmata Karya: Ahmad Nurullah
Menimang Sejarah, Menangisi Airmata
(- Kepada Orang Lain)

(1)
Sungguh adakah cinta, jika perang adalah fakta,
dan darah adalah sejarah?

Kadang aku berpikir:
Mungkin kita tercipta
dari keisengan. Kala bumi kuyup
Udara menggigil. Dan malam
sesaat jadi biru.

Di bawah hujan, kota-kota lelap
Dan, seperti di hari-hari kemarin,
sepasang api purba bertumbuk, meledak,
dan terbakar. Dan kau:
di luar keinginanmu, jatuh
pada seliang rahim yang basah
dengan kepala kuyup oleh api
dengan kening basah
oleh mimpi.

(2)
Di bangku dasar kaureguk pengetahuan pertama:
Perang meletus sejak di sebuah lembah
di rahim: Ketika bermiliar ekor serangga berenang
dan berburu mahkota
di kepala putik bunga
Ketika kau cuma seharga anak nyamuk
tersisip di tengah gelombang massa.
Dan kau saling menikam
Dan kita terlibat di dalamnya
Dan kitalah pemenang. Kitalah pembunuh
Dan hidup bermula dari pembunuhan.

(3)
Lalu ibumu mengerang
Dan kau: sang pemenang itu
melompat ke dalam waktu. Debu tumbuh,
dan berbunga. Tanah berbuah: sejarah -

Tentang Kain yang tangannya kuyup darah
Tentang Hitler yang mengamuk di Eropa
Tentang pesta peluru di Lebanon,
Afghanistan - Timur Tengah
Tentang perang etnik di Yugoslavia
Tentang pembantaian massal di Tiananmen
Tentang Semanggi, Ambon, Aceh, Irian Jaya,
Timor Leste. Tentang kita. Tentang kita.

(4)
Sungguh adakah cinta, jika perang
adalah fakta, dan darah
adalah sejarah?

Kau meludah: “Campakkan saja mimpimu
tentang cinta. Mari, perang yang lain
kita mulai. Seperti dulu. Ketika kita
berebut mahkota di kepala putik bunga
Sebelum kita sendiri mengerti
asamnya darah
pedasnya airmata.”

(Lalu kau terisak:
“Ibu, maafkanlah atas kelancanganku.”)

Jakarta, 1999
Puisi: Menimang Sejarah, Menangisi Airmata
Puisi: Menimang Sejarah, Menangisi Airmata
Karya: Ahmad Nurullah

Baca juga: Kumpulan Puisi Romantis

Post A Comment:

0 comments: