Nota Bulan Desember
(- Catatan Akhir Tahun)

Tak perlu kuucapkan “selamat tinggal” pada detik terakhir
bulan Desember, dan “selamat datang” untuk detik
awal Januari. Untuk apa? Segala waktu sama. Waktu
adalah sumbu semua sejarah, ibu segala kepedihan.

Almanak pun jatuh. Telungkup. Tahun bersalin. Tapi,
di antara detik-detik yang gugur, bulan-bulan membusuk,
hari-hari berkarat, dan jam yang menguning, banyak hal yang
masih lengket - berkecamuk dalam kenangan:

Tanah meledak, kota-kota terbakar; AIDS, flu burung,
demam berdarah, busung lapar; BBM melonjak,
harga-harga menjerat leher, juga laut yang mendadak gila,
menghancurkan jadwal-jadwal -
menculik seluruh isi kota.

Tapi waktu tak peduli. Waktu terus berjalan, mengusung
detak-detaknya, diam-diam -
menyembunyikan wajahnya di balik
paras bulan merekah, atau matahari bersinar
Membungkus rahasianya dengan siang, dengan malam:
Waktu adalah siluman yang pandai menyamar.

“Selamat Tahun Baru,” katamu, menyeringai.
Selamat tahun baru? Untuk apa?

Seperti waktu, aku pun terus berjalan: gelisah oleh tatapan
mata bulan. Gemetar di bawah kerling
matahari. Sebab, gara-gara waktu,
banyak hal berdesak untuk diingat,
dan aku berjuang untuk lupa - sebagai jalan
pembebasanku.

Jakarta, 2006
Puisi: Nota Bulan Desember
Puisi: Nota Bulan Desember
Karya: Ahmad Nurullah

Baca juga: Kumpulan Puisi Romantis

Post A Comment:

0 comments: