Pada Tapal Batas Waktu

Janganlah mencari tahu apa yang akan terjadi besok
- Horatius

Tapi, kita selalu langgar petuah itu. Kita terus melangkah:
membaca, bertanya, menduga-duga:
Apa yang akan terjadi, besok?
Akan turun hujankah di hari pengantinmu,
Kamis depan?

Saat kau terjaga dari tidur, adakah rumahmu
masih utuh terpacak? Akan membuncit lagikah
perut istrimu, akan beranak lagikah anjingmu,
tahun depan? Dua hari lagi
suamimu pasti studi di Holland?

“Janganlah mencari tahu apa yang akan terjadi besok
Jangan mencari tahu apa yang akan terjadi
di masa depan”

Tapi, siapa tak mau mencari tahu
apa yang akan terjadi, besok - di negeri ini,
di hari-hari depan? Usai makan di sebuah kafe,
adakah tubuhmu masih bulat, meja dan kursi
masih tegak, dan kepalamu masih setia
tinggal pada lehermu yang jenjang?

“Janganlah mencari tahu apa yang akan terjadi,
besok. Besok adalah rahasia waktu. Masa depan
adalah daerah Tuhan.”

Tapi, kita terus langgar petuah itu, dengan berani:
dengan kaki, dengan tangan. Dengan degup jiwa,
dengan segenap kesadaran. Sebab,
sejak tangis pertama pecah,
sejak popok dibalutkan,
besok tak dapat dihindar
Masa depan tak terelakkan.

“Tapi, apa yang akan terjadi, besok?”

Bulan bergerak. Detik-detik terus berguguran. Tapi
kita tak henti melangkah. Tapi kita
tak kunjung berhasil meraih jawab
Sampai, pada tapal batas waktu,
kita jera bertanya, dan kita tak membantah:
Besok adalah sebuah pintu -
dari mana kita masuk, dan kita tak kembali.

Jakarta, 2006
Puisi: Pada Tapal Batas Waktu
Puisi: Pada Tapal Batas Waktu
Karya: Ahmad Nurullah

Baca juga: Kumpulan Puisi Romantis

Post A Comment:

0 comments: