Puisi: Selat Kamal: Mengupas Nostalgia Karya: Ahmad Nurullah
Selat Kamal: Mengupas Nostalgia

Kita tak mungkin mencebur ke sungai yang sama
- Herakleitos

Tak mungkin, memang. Seperti juga tak mungkin
aku berlayar di laut yang sama. Waktu membawa angin, iklim,
dan ombak yang lain. Meski di langit lintas
matahari yang sama. Seperti dulu: di masa bocahku.

Tapi, melayari Selat Kamal, mengulang
perjalanan yang ngilu: orang-orang berdesak
Juga mobil-mobil, motor,truk; para pedagang telur, rokok,
nasi bungkus - sebelum feri meraung, menggeliat,
lalu berangkat.

Pernah di masa bocah kubayangkan:
Dari langit, pulauku bagaikan seonggok buntut naga
terendam di bawah permukaan air laut:
Jawa tubuh, Sunda kepala, Jakarta urat lehernya
Kampungku: bisul dari sebuah titik di cakrawala

Kini buntut naga itu bergeser
Setelah terpacak Jembatan Suramadu,
yang sempat rubuh. Bukan oleh gempa atau revolusi
Tapi mungkin oleh logam yang ceking, sluf yang tonggos
Semen yang tipis - moral yang keropos.

Selat Kamal sesak kenangan, ramai sejarah,
juga legenda - semacam legenda:
Tentang Adirasa - adik Jokotole - yang mengantar pusarnya
Ke Majapahit, di abad yang jauh: sumber timah panas
Perekat engsel gerbangnya yang angkuh dan keramat.

Juga saat Trunojoyo menangkap firasat, mungkin
tanpa firasat. Sebelum sekerat hatinya jadi santapan lezat
para penghuni kaputren, dan segenap warga Kartasura
Sebelum jenazahnya dibiarkan tergeletak
di kaki tangga istana. Tanpa upacara. Tanpa doa-doa.

Selat Kamal sibuk dengan impian para perantau:
Rombongan pedagang dan nelayan menyeberang
Lalu terdampar dan berbiak di bibir timur Tanah Jawa
Mengusung ragam adat, dan kata-kata
Juga logat, dan panas darah. Panas darah?

Para calon TKW bermimpi hujan rial di Tanah Arab
Seraya diam-diam mengerling Mekkah. Atau
abang sate menyusun rumah idaman dari
kepulan asap, nyala bara, tetes keringat. Atau…

Selat Kamal. Telah berapa kali kulayari
Dan kutinggalkan engkau, Ayah? Ibu?

Kapal feri mengerang, menggeliat
Membawaku pergi, menjangkau masa depan
Sebelum akhirnya aku terdampar
di negeri kata-kata: sebuah negeri yang kurus,
dan tak seharum pesta.

“Tapi demi kemerdekaanku,
tak ada alasan untuk menangis, Ayah, Ibu.”

Jakarta, 2004
Puisi: Selat Kamal: Mengupas Nostalgia
Puisi: Selat Kamal: Mengupas Nostalgia
Karya: Ahmad Nurullah

Baca juga: Kumpulan Puisi Romantis

Post A Comment:

0 comments: