Puisi: Seseorang Berdiri di Tepi Sajakmu Karya: Ahmad Nurullah
Seseorang Berdiri di Tepi Sajakmu

Seseorang berdiri di tepi sajakmu. Wajahnya sepi,
seperti sebuah kuil terpacak
di lereng bukit. Sepasang matanya kering, 
seperti selongsong kulit laba-laba.
“Aku rindu kedamaian,” bisiknya.

Adakah ia seorang pertapa?

Ia tertegun: memandang kata-kata berbaris.
Atau menikung, seperti rel kereta api membelah
tanah desa. Atau berkeriap,
seperti lampu-lampu di tengah kota -
di sebuah negeri yang redup
Negeri yang jalan-jalannya berputar. Atau melintir,
seperti rambut sebuah suku tua yang telah punah.

Adakah di sana terbentang kedamaian,
seperti ia impikan?

Agak ragu ia melangkah. Masuk:
menyibak kata-kata.
Lalu, dengan terompah butut,
ia pergi keliling kota:
menyaksikan karnaval hari kemerdekaan. Atau
menonton sirkus. Atau ikut menyisip ke tengah
arak-arakan massa -
sejarah yang menuntut turun harga BBM,
atau kenaikan upah buruh.

Haus, ia minum air mancur di sebuah taman.
Lalu tertidur, sebelum dibangunkan oleh gerimis.
Dua ekor anjing menggigit ujung jubahnya -
sebuah peristiwa yang mendorongnya melompat
ke luar lagi dari sajakmu.

Di luar pagar, pada tapal batas antara
dunia dan kata-kata,
gonggong anjing masih bersahutan -
menyembulkan moncongnya dari sederet penanda.

Ia tersengal, menyapu peluh di keningnya, dan berbisik:
“Tak ada kedamaian,” Juga tidak dalam sajakmu.

Jakarta, 2003
Puisi: Seseorang Berdiri di Tepi Sajakmu
Puisi: Seseorang Berdiri di Tepi Sajakmu
Karya: Ahmad Nurullah

Baca juga: Kumpulan Puisi Romantis

Post A Comment:

0 comments: