Tersesat di Negeri Cinta

Perasaan itu begitu nakal, ia tak dapat kompromi dengan pikiran dan lingkungan, Bandelnya minta ampun. Aku kualahan, juga kamu, juga leluhur kita. Ia berjalan seperti Arloji tanpa angka-angka hingga kita sama-sama tua.

Waktu itu kita berlari  lincah di sepanjang pematang yang ditumbuhi awan dan pohon-pohon bintang. Seluruh tubuhmu berwarna merah marun dan tubuhku biru telur asin, tak ada masyarakat dan agama yang mencintai kita, kecuali Tuhan Yang Maha Esa.

Pegang tanganku dan bawalah aku kepada harapan untuk menggambar relief dan membangun Candi-candi. Aku kan membuat menu masakan dari drama dan pantomim, dari daya hidup dan biografi langkah kaki. Ikutilah desah angin yang membawa seribu lonceng sebesar telinga dan gemrincing gerimis. Dengarlah.... sejarah luka menyerah tanpa sarat di dada kita.

Mari berdua duduk di beranda membuat undang-undang dan pasal-pasal dari biji-biji pertemuan. Melangkahlah demi mimpi anak-anak dan pagi yang bergegas mencari berita untuk hari ini.

 Inilah sebuah Negeri yang mengajari kita bahagia tanpa tanda tanya.

Yogyakarta 25 Desember 2010
Puisi: Tersesat di Negeri Cinta
Puisi: Tersesat di Negeri Cinta
Karya: Andy Sri Wahyudi

Baca Juga: Kumpulan Puisi tentang Sungai
Loading...

Post A Comment:

0 comments: