Sangkuriang

Karena aku tak percaya dia adalah ibuku, maka aku tetap jatuh cinta padanya. Lalu ingin memburunya. Memikatnya. Dan mengajaknya ke pantai. Melihat rembulan. Yang jika malam tiba selalu turun dan mencuci kulitnya di lengkung ombak. Dan gunung yang ada di belakang sana seperti menggeliat. Kata kabar, gunung itu dulunya adalah kucing yang dikutuk. Kucing dengan bulu yang meremang. Kucing yang pernah menjadi milik siapa saja, yang percaya, jika isi hatinya dapat dibuka-ditutup. Atau sesekali diiris kecil. Dalam bentuk terukur atau sembarangan. Seperti potongan dendeng kering. Dengan aroma anyir yang wangi. Aroma yang selalu meruap saat pulau yang tenggelam itu menghilang. Dan yang mati menjelma sinar. Sedang yang selamat, melambaikan harapannya dari atas bahtera. Di sebelah si orang suci yang bergumam: “Mengapa ada cinta terlarang yang begitu berani. Dan mengapa pula justru dari keturunan kalian yang merasainya? Ya, mengapa?”

“Tapi, ahai, apa jatuh cintaku ini salah?” Akh, karena aku tetap tak percaya dia adalah ibuku, maka aku tetap saja jatuh cinta padanya. Dan tetap ingin memburunya. Meski tak pernah sampai. Meski dari matanya, air mata terus berjatuhan. Air mata yang memercik ke setiap batu. Sampai batu itu berlubang. Lubang yang mengingatkan aku pada perut para serdadu yang kalah. Yang pulang dari medan perang dengan anggota tubuh yang berkurang. Anggota tubuh yang nanti akan berderak. Seperti deraknya batang-batang bambu yang runcing. Yang tepat di ujungnya, ada gandulan yang bertuliskan namaku. Dan ada pula, kiasan-kiasan yang memedihkan. Yang akan membuat aku menjelma seperti kucing itu. Untuk kemudian, segera dikutuk juga, jadi gunung yang lain di pulau yang lain. Pulau yang selalu berjalan di dalam tidur-tidurmu yang tak jenak. Dengarkan: mengapa si orang suci itu terus saja tak bosan bergumam?

Gresik, 2008
Puisi: Sangkuriang
Puisi: Sangkuriang
Karya: Mardi Luhung

Baca Juga: Kumpulan Lomba Puisi Online Gratis
Loading...

Post A Comment:

0 comments: