Kota Cahaya
(tanjungkarang-telukbetung)

(satu)

sebuah kota cahaya lahir di wajahmu
aku pun singgah. jika diperkenankan aku
hendak mendirikan rumah di sini
dengan pintu atau jendela menghadap
pantai. dan tanganmu jadi sampan,
rambutmu layar. sesekali merapat
di kaca kamarku. seperti tetesan embun
yang mencair: mutiara dalam mimpiku
pecahan-pecahan bintang yang merantau
sepanjang malam akan rebah di kota ini
juga sisa perjalananku penuh luka
sekejap lelap di pelukanmu. dalam mimpiku
segalanya jadi mutiara,
sampan yang kembali
menetap abadi
sebuah kota cahaya lahir di wajahmu
aku pun singgah. jika kauperkenankan
aku akan menjaganya dari pecahan sodom
dan gomora yang kacau
aku bangun rumah di sana
jendela dan pintunya menatap pantai.
tanganmu menjelma sampan
dari senyummu layar membentang
di dalam reruntuhan waktu
kota jadi semerah-dadu
melelapkan hasrat
mengawinkan kota
untuk aku singgah
dan menetap abadi

Lampung, 12-24 juli 2003

(dua)

aku ingin kota yang lahir di wajahmu
bercahaya. di dadamu kupahat
rumah yang baru. Jendela dan
pintunya menatap matahari yang terbit
dan lelap. seperti keluh akan sampai
ke dalam getarmu
begitulah, sayang, akan kupangkas
segala bernama rumput
yang menyimpan maut
dari wajahmu kusisir kota cahaya
dalam getar si remaja
mencabuti uban:
kota yang tua dan kacau
tinggal igau
dan aku merantau ke dalam
kota cahaya ini
menggali senyum abadi
amboi, jangan pula kaubalikkan
kota ini, perempuan luth?
– izinkan aku di sini
menetap-tatap! –

Lampung, 25 Juli 2003

(tiga)

gairah apa yang memilih kota cahaya ini
bagian pengembaraanku
segala tempat telah kurantau
tak juga memukau
kini aku kembali ke kota kelahiran
sejarah purba yang tersimpan
perjalanan adam mencari cinta
di segala semesta
gairah apa yang melahirkan kota cahaya ini
ketika siang yang rusuh?
aku tatap parasmu
membayang kota terbuka
aku pun menyusuri
liku-sungaimu
amboi, gairah apa
yang menggetarkan hasrat ini?

Lampung, 25 Juli 2003
Puisi: Kota Cahaya
Puisi: Kota Cahaya
Karya: Isbedy Stiawan ZS

Baca Juga: Kumpulan Puisi Sahabat
Loading...

Post A Comment:

0 comments: