Ingatan
(: buat sahabatku)

ia datang, selalu tandang
meski tak diawali oleh janji

dan waktu kehadirannya
juga waktu yang tak berubah
seperti sudah ia hitung
setiba di rumahku pada jam sekian

lalu, seperti hari-hari lalu,
ia tak mengetuk pintu
lazimnya tamu
: gedoran dengan ujung sepatu
- kadang dengan tumitnya -
setelah itu ia masuk dan terbahak

(tapi sekiranya pintu rumahku terkunci
ia akan mengetuk kaca hingga tiga kali
dan jika tiada sahutan dari dalam
jendela rumahku akan dia dongkel
dengan ujung obeng: setelah terkuak,
kaki kirinya naik kemudian kaknan
dan melompat!)

tapi, kenapa aku tak pernah marah
sedang aku punya nyali cukup baik?
"sekali kupukul, kau akan tersungkur," kataku
suatu ketika seraya kuceritakan masa mudaku
yang pernah belajar ilmu bela diri

- ia hanya tersenyum, seperti tengah
mengumpulkan nyalinya -

suatu hari di siang sangat panas
ia berjalan kaki ke rumahku
bajunya - persisnya kaus - ia buka
sendal jepitnya ia seret
layaknya penyapu jalan

kulihat ia: kepalanya ia tutup
dengan baju kausnya
dan aku tersenyum dari seberang jalan
lalu kuikuti dari belakang
hingga di depan rumahku

kini, ia pergi ke mana:
ia sakit-sakitan
tak berani telanjang dada
selalu menghindar dari terik siang

"kini ia stroke dan pernah
dirawat di rumah sakit," cerita temanku
"ia amat takut pada istrinya," cerita
temanku yang lain

aku tak lagi pernah jumpa dia...
2010
Puisi: Ingatan
Puisi: Ingatan
Karya: Isbedy Stiawan ZS

Baca Juga: Tempat Wisata yang Bagus
Loading...

Post A Comment:

0 comments: