Melabuh

apakah kau yang berkelebat
saat mataku sekejap terkatup?

aku masih bisa melabuh
dalam genangan hujan
ketika bulan tertidur
dan bintang-bintang ngelindur

anak-anak langkah kulepas-bebas
arusi tiap nadi dingin
bersama awan yang turun
: di wajahku masih bersisa warna
pelangi dari keningmu

"simpan kataku yang
telah jadi rekaman itu, akang..."

suaramu yang tak pernah menjauh
dan kini mengekal, semakin rapat
dalam arah yang kutuju

"pulanglah sebelum hujan
benar-benar luruh
bersama angin atau topan:
- juga bandang
        dan ingatan menakutkan -
agar tak kau lihat rumah ini
menjadi perahu, akang..."

aku ingin bertahan di sini
sebelum oleh-oleh kubawa
untukmu,
sebelum pasar-pasar
hanya menawarkan kemewahan
untuk lebaran

peluklah sepi itu
yang kutitip di bantal
atau kenangan-kenangan
yang menghanyut di selimut

- peluklah semua itu, dinda
sebelum kau dipeluk gelisah
atau memeluk bocah-bocah
yang dulu pernah kaurajah
dalam buku harianmu
betapa harapan
bisa tak sesuai dengan harapan

tapi mengenang rumah kecil
dengan jendela mungil
menerima matahari
selalu kaurindu
cukup buatmu menjadikan
waktu menari riang

"ini perahu kita
akan sampai di dermaga
kala senja merapuh, akang..." kau berbisik

aku?

26/08/2010; 00.39
Puisi: Melabuh
Puisi: Melabuh
Karya: Isbedy Stiawan ZS

Baca Juga: Website Destinasi Wisata
Loading...

Post A Comment:

0 comments: