Pangeran

lalu matamu terpejam dalam rangkulnya, kau terbang di dadanya. berulang
kubangunkan karena waktu telah jauh meninggalkan pagi, tapi kau makin
lelap. kau hitung setiap getar yang berdebar dari dadanya, lalu kauterima sebagai
desah. kau mulai gelisah. menimbang-nimbang pulang ke rumah lama ataukah
membiarkan luluh. sebab setelah berkali-kali bersamanya, kau dapati debar
yang lain: kau tenteram lelap dan jaga dalam pelukannya.
dan aku hanya rangka, tiang-tiang yang tak lagi mampu menyangga. lembaran
kertas yang sudah terisi catatan-catatan usang, daftar pinjaman, jadwal pertemuan
yang sulit lagi terbaca. padahal semua itu adalah masa lalu kita, kenangan-kenangan
tentang hari tanpa tercatat dalam kalender. gambar ataupun video yang menggemparkan
pasar. kau tetap lakonku. aku pasanganmu saat-saat kita

- tapi itu dulu, sudah lama sekali. sebagai masa silam

kini aku cuma rasakan desahmu setiap kau lelap dalam dekapannya. lalu terbang
begitu kau terdampar di dadanya. ia adalah pangeran muda dari negeri ladang
kopi jauh dari pinggir kota. namun selembar peta dan buku bunga di sakunya
bisa menyihir permaisuri sedunia.

- aku menyukainya bukan karena peta dan buku bunga, tapi
menyenangkan setiap percakapan….

ia tampan. seperti sulaiman bagi julaikha, romeo untuk juliet. makanya kau bisa
bersampan. mengarungi pulau-pulau dalam peta. menetap di kota-kota persinggahan,
menyanyi dan bersuika di dalam akuarium remang - layaknya sepasang ikan kalian
bersulang - hingga lepas sayap-sayap malam. kau dan ia pulang dengan langkah
gontai. sangat letih. kembali lelap setelah membangun rumah dari paduan liur. dan
esok pagi akan lahir ikan-ikan kecil: anak-anak air

- aku sudah siapkan nama bagi anak-anak itu.

aku tak pernah tahu kenapa kau suka habiskan malam berenang dan lelap di ceruk
debar dadanya. menghapus setiap kepulangan, melupakan pada peraduan. tapi
dengkurmu ia rasakan sebagai cumbu. setelah itu kau pulang sambil menjadwal
pertemuan-pertemuan lain:

- aku pamit mau pergi dengannya, juga izin
menginap di rumahnya

sementara aku hanya menunggu kabar hingga malam makin tua!

aku benci lelaki pencuriga. padahal aku hanya ingin
menyenangkan jiwaku, riang-riangkan kesuntukan. di rumah kontrakan
hanya kurasakan kesunyian. sungguh menyedihkan?

hanya bersama pangeran dari negeri ladang kopi dan selembar peta serta buku bunga
di sakunya membuatmu tersihir. melepas pakaian malam, mencabik waktu demi
waktu dalam akurium - sebagaimana sepasang ikan menjatuhkan siripnya saat
musim kawin - kalian pun memuntahkan liur dan lendir ke segenap debar!

saatnya kini kukumpulkan semangat melupakanmu. menghapus seluruh kenanganmu,
meniadakan namamu.
mencabut ikrar di dalam undang-undangmu…

sekarang pergilah. kulepas seluas-luasmu. jadi ikan. menjelma rusa.

Februari-Maret 2008
Puisi: Pangeran
Puisi: Pangeran
Karya: Isbedy Stiawan ZS

Baca Juga: Kumpulan Jawaban Sinonim Kata
Loading...

Post A Comment:

0 comments: