Puisi: Usai Perpisahan Karya: Isbedy Stiawan ZS
Usai Perpisahan

seusai kuucapkan perpisahan subuh itu
bagaikan tumit ismail menggali-gali air di mataku
hingga mancur mancurlah: aku hirup seperti
meneguk zamzam, betapapun asin kurasa

tapi, begitulah, perpisahan ini membuat zamzam
di mataku digali-gali. menjadi laut di pipiku
kusorong perahu ke pantainya. aku berlayar
bersama kesedihan menggelombang. lebih perih
dari ditinggal si pacar
                                    lebih sedih ditinggal mati
para kekasih

entah bila bisa bertamu. mengantar
rencana-rencana dan surat undangan
sebelum tunas kuburku sebagai pohon
bagi payungku berjalan menuju masyar
di bawah matahari paling membakar

teringat padang pasir terbentang yang panas
bukit rahmah bagi pertemuan kembali adam-hawa
setelah ratusan tahun dipisahkan dan mengembara
atau bukit julang bagi lelaki yang sembunyi
sebelum pindah ke lain kota. "ah, betapa tinggi
bukit itu, kalau aku mendaki tak akan sampai
ke dalam gua itu," bisikku. dan bagai sayap
pasir-pasir itu hinggap di wajahku

 
seusai kuucapkan perpisahan subuh itu
mataku bagaikan digali tumit ismail
hingga memancur air. kuteguk airnya,
                                   asin rasanya
kubawa menjadi kenangan. kujadikan lampu
bagi arah jalanku. "aku ingin datang lagi
padamu sebagai tamu, meski tiada undangan,"
harapku. kucium lagi batu hitam yang tak
memberi manfaat ataupun mudarat*)

: seperti mencium-Mu....

8 Mei 2011

*) ucapan Umar bin Khattab.
Puisi: Usai Perpisahan
Puisi: Usai Perpisahan
Karya: Isbedy Stiawan ZS

Baca Juga: Kumpulan Fakta Unik Dunia
Loading...

Post A Comment:

0 comments: