Puisi: Hadiah Semesta Karya: Frans Nadjira
Hadiah Semesta

Duduklah, Unda
Di taman emas pernikahan kita.

Pagi membuka matanya di diagram bayang-bayang
Terpesona melihat getar garis melengkung.
Kau terserap ruang-ruang warna
Melamun di sana Tak berkawan
Hanya serbuk embun di kelopak bunga.

Seandainya air mataku dapat menjadi embun
Akan kubasuh tubuhmu sepanjang malam.
Jemari lentikmu akan kuelus tanpa kata-kata
Karena cinta adalah rahasia hadiah semesta.

Duduklah, kasihku
Di bawah tudung sejuk ini
Hanya ada satu pilihan
Masuk atau ke luar
Di berkas masa lalu
Di kerucut cahaya masa depan.

Dengan apa kunyatakan warna putih mekarmu?
Dapatkah kusamakan dengan cinta yang mengisi
relung-relung hatiku?
Peluklah daku, kasihku, karena engkau nyata
Seperti alunan musik surgawi di malam sepi.

Duduklah, kasihku
Di celah bukit berlereng rahasia
Ketidakpastian membumbung tinggi.
Angkasa bercabang ganda
Saling melilit Saling menggigit
Seperti jerit jejak kaki di pantai.

Ketika cinta membasuh hatiku dengan air mata
Maka duri mawar akan menjadi benang sutera halus.
Dan kelopak yang menyimpan rahasia semesta
Adalah bibir yang setia menanti kecupan.

Seperti air mengalir di gelap malam
Cinta bersemayam di kelopak terdalam hatimu.
Sulur-sulur yang ingin menggapai cahaya di langit
Adalah doa dan kekuatan yang tak mudah lekang.

Malam telah menyucikan bibirmu yang mungil
Seperti bintang-bintang bernyanyi di langit.
Karena cinta yang bersemayam di hati kita
Adalah kekuatan takdir yang mempersatukan kita.

Duduklah, kasihku
Sejarah bayang-bayang dan seekor kucing
Menjadi penanda sayup tanjung di seberang laut.
Menjadi hutan kecil berlumut hijau
Menjadi tetes air Menjadi puisi
Menjadi cahaya menyapamu ramah.

Bunga mekar di taman adalah pelaminan kita
Adalah sepasang tangan yang merapat berdoa.
Seperti pasir di pantai  mencatat keindahan
cinta pertama kita
Maka badai pun tak mampu memisahkan kita.

Duduklah, Unda
Di taman emas pernikahan kita.
Sejarah bayang-bayang dan seekor kucing
Menggenapi sepimu.

Puisi: Hadiah Semesta
Puisi: Hadiah Semesta
Karya: Frans Nadjira

Baca Juga: Puisi Sydney
Loading...

Post A Comment:

0 comments: