Hari Penghabisan Letnan Dan

Di pondok pelacuran itu
ia isap cerutu buntu.

Di pondok pelacuran itu
ia sesap candu keluh.

Di pondok pelacuran itu
ia cecap bir terakhir

lalu bernyanyi-nyanyi ia
tentang buntung kakinya
tentang buntung nasibnya
tentang tititnya yang layu
sejak dirajam serpihan bom jahanam itu.

Ingin menari-nari ia
dengan buntung kakinya
menginjak-injak takdir
menginjak-injak gedung pemerintah
menginjak-injak markas tentara
lalu berteriak-serak
seperti Louis Amstrong

yang gelap melolong
memanggil tuhan
memanggil setan
memanggil perempuan.

Tidak, si Letnan tak hendak memanggil perempuan
sebab di pangkuannya
perempuan muda tengah mengejang
dengan dada terbuka
dengan birahi terbata-bata.

Di lantai tujuh pondok pelacuran itu
sekonyong-konyong ia melihat Forrest Gump
seperti jin semprul
menyembul dan melambai dari jendela.

Ke sana Letnan Dan menerjunkan diri
dan badannya yang remuk
tergilas mobil patroli.

2016
Puisi: Hari Penghabisan Letnan Dan
Puisi: Hari Penghabisan Letnan Dan
Karya: A. Muttaqin

Baca Juga: Sajak karya Ari Pahala Hutabarat
Loading...

Post A Comment:

0 comments: