Kafe 1

Kelak, jika kau mati, tubuhmu tumbuh menjadi tembakau, rohmu
mondok di batang-batang rokok, sakitmu meresap ke biji-biji kopi,
rindumu mengendap dan mendekap butir-butir asap, seperti puisi
mendekap bunyi, seperti mata mencari ruap kopi, seperti detak
jantung mencari juntrung di kerak-kerak cinta dan insomnia. 

2019


Kafe 2

”Jika rokok ini diracik dari tembakau dan cengkeh matang yang
dirajang perempuan tenang dengan doa dan cinta semata wayang,
bir ini pastilah diramu dari linang air mata, disuling dengan rindu
yang renggang dan rumpang, dicampur sedikit keringat dari birahi
perempuan genit serta banyu susu perawan rumit, agar kita dapat
leluasa menafsir cinta, menertawai bekas luka dan berkas buku
nikah yang hendak memenjarakan aku di kamar yang betapa indah
dan sia-sia,” begitu kau berkata, saat matamu masih murup
sementara lampu-lampu mulai redup dan kafe segera ditutup.

2019
Puisi: Kafe
Puisi: Kafe
Karya: A. Muttaqin

Baca Juga: Puisi Doa Chairil Anwar
Loading...

Post A Comment:

0 comments: