Puisi: Kapan Saat Aku Tak Ingin Karya: Frans Nadjira
Kapan Saat Aku Tak Ingin

Ada saat aku ingin
Mencair dalam air mata taman rahasiaMu.
Mengalir di sungai terpanjang dari pusat malam
Di hari-hari terpanas ketika seorang suci
Menyucikan dirinya sebelum menjadi tebing.

Ada saat aku ingin
Menjadi angin, menjadi badai yang memadamkan
lampu-lampu mercu suar
Ketika kapalku berlayar di laut rahasiaMu
Laut kuah panas berminyakMu
Tempat dia dan aku tak pernah lahir.

Ada saat aku ingin
Berkilau, menciptakan embun di pelupuk mataku
Seperti bunga menciptakan kelopak wanginya
Dan dari jemariku berhembus angin kupu-kupu
Tempat aku berlari seperti cahaya di padang rumput.

Aku ingin menjalani masa tua dengan pipa tembakau
terselip di bibir
Pipa tembakau dan seekor anjing pualam
Membayangkan seorang lelaki tua kesepian
Menjejakkan kaki di tangga redup cahaya terakhir
Ketika senja berkata: “Kini saat untuk berangkat.”
Lalu kapan saat aku tak ingin?
Kapan saat aku tak ingin menjadi angin
Menjadi derai air mata di pelupuk rindu
Bebas dari hal-hal yang harus kulakukan
Bebas dari kata-kata yang harus kuucapkan? 

Wajah-wajah itu menatapku dari sebalik tirai malam
Kutatap mereka dengan luka rahasiaMu
Luka menganga yang membuka jalan sungai ke muara
Yang menuntun malam memetik bintang-bintang
Menemukan kebebasan di saat aku tak ingin.

Puisi: Kapan Saat Aku Tak Ingin
Puisi: Kapan Saat Aku Tak Ingin
Karya: Frans Nadjira

Baca Juga: Puisi Yang Terampas dan Yang Putus
Loading...

Post A Comment:

0 comments: