Puisi: Kupu Terakhir Karya: A. Muttaqin
Kupu Terakhir

Terbang jualah yang membuatmu bimbang,
biar tak sanggup kau menghilang,

meninggalkan sekuncup rindu di dadaku
yang tengadah mengimpikanmu:

Kau, yang memekarkan kuncup perdu
di mataku, mata batu, juga bulir padi

yang gemetar, menahan birahi mawar
dan musim memar.

Di ranting garing,
senja dan gagak terbaring,

seperti tak kuasa mengelak semerbak
yang menanjak ke ujung kening.

Dan di puncaknya yang bediding,
Kau pun datang,

membimbing ajalku
berpaling, ke puncak hening.

2008
Puisi: Kupu Terakhir
Puisi: Kupu Terakhir
Karya: A. Muttaqin

Baca Juga: Puisi tentang Mobil
Loading...

Post A Comment:

0 comments: