Lanskap Taman

aku berhenti di antara kesibukan yang telah kehilangan tujuan. bunga-bunga bermekaran di sudut jalan, lambang kota mengisyaratkan segala yang pernah ada. inikah permulaan baru?

asmara bertubi-tubi membakar dada, larut menjadi abu kebahagiaan sekaligus penderitaan. aku membeku di dalam baranya, suara-suara kebijaksanaan menggema pula dari satu arah yang tak bisa kupastikan asalnya. kemudian kuukur kesunyian demi kesunyian, kubuka pintu demi pintu yang masih rapat terkunci.

terlalu banyak pesan yang kau tinggalkan, betapa sukar kuterjemahkan.

aku terhenyak di hadapan bunga-bunga yang mekar. aromanya menguar samar. ada mahluk-mahluk baru di dalam kepalaku, mereka membuat lubang-lubang yang dalam, lalu membongkar-bongkar setiap ingatan dan kenangan di mana sedih dan bahagia menjadi tak punya beda. seharusnya aku menjadi bunga plastik di meja kerja, ruang tamu atau kamar tidur. agar hidup dan mati tak seperti datang bersamaan, pohon-pohon tumbang perlahan. burung-burung hitam terbang.

namun begitulah waktu, mata biru yang bersuara bagai perempuan-perempuan gipsy yang gemar meramal tangan-tangan duka dan bahagia.

April, 2012
Puisi: Lanskap Taman
Puisi: Lanskap Taman
Karya: Fitri Yani

Baca Juga: Puisi tentang Keringat
Loading...

Post A Comment:

0 comments: