Puisi: Lobak Putih Karya: Inggit Putria Marga
Lobak Putih

terlontar dari paruh kenari, rebah sebutir biji di sisi kiri setumpuk jerami.

tanah, yang tahu di butiran itu tersimpan nasib bumi, memekarkan tangan-tangan mistiknya, mendekap dan membenamkan tubuh benih ke gelap lapisan bumi.

benih temu ruang samadi. dalam geming, melalui pori-pori tanah ia serap berkah matahari. dibiarkannya serpih-serpih air, yang seakan tiba-tiba terlahir, susupi kulit ari. diam namun bergerak, terus tumbuh meski tersekap cangkang sesak.

diruapi harum fajar, di bawah selimut sebagian manusia melingkar.

ular berdesis, menjalar, teteskan lendir bisa yang menunggu penerobos belukar.

dalam tanah, sebutir benih meretakkan cangkang. kecambah merekah, rapuh bersih

bagai perawan bersedih. sebagai bakal tumbuhan, ia tahu ke mana tubuh mesti digerakkan.

tanah adalah ibu yang tak pernah mencegah segala yang hendak lahir dan musnah.

ia bebaskan kecambah mengoyak tubuhnya, menyerap segala harta yang dipunya:

air, udara, ratusan unsur hara. ia cukup berbahagia saat dapat berbagi nafas

di kebun semesta, walau kebahagiaan itu harus ditebus dengan merelakan tubuh

tak lagi penuh sebagai miliknya.

tiga puluh hari dilalui, kecambah kini bukan kecambah lagi.

di permukaan tanah, sepasang daun mungil, yang dulu tersentuh hujan kerap menggigil, menjelma lembar-lembar hijau bercahaya. tulang-tulang daun menonjol seperti jalan tol bagi ulat-ulat bertotol. ujung-ujungnya tegak, seolah tak serintik pun air dan sinar matahari akan dibiarkan terserak.

bersama cacing dan bakteri, di kegelapan tanah ada yang tak henti bergerak:

akar-akar membengkak, menjelma umbi, putih bersih bagai bayi siap disapih.

o biji yang tumbuh jadi kecambah, kecambah lemah yang mewujud tumbuhan gagah tumbuhan yang menyembunyikan umbi berwarna ramah, kini kau sejati

jadi lobak putih yang sepanjang umur rela terbenam dalam tanah.

tak ia pamer pada makhluk di permukaan bumi, umbi putih pemeram minyak atsiri. tak jengah hidup merendah dalam tanah, meski mampu turunkan amuk tekanan darah. ia tak merasa tak berharga saat kutu-kutu membentuk kampung di daunnya. jamur, ulat, dan bakteri busukkan umbi: sang inti diri. lobak pantang hidup khawatir

sebab mati takkan membuatnya berakhir. diyakininya di antara rampak daun koyak akan ada kuntum bunga yang mekarkan petal, putik yang disetubuhi serbuk sari

yang membuat biji lahir dan mungkin lagi dibawa kenari

terbang melintasi rumah-rumah petani, terjatuh di kali, menyusur arus yang menggiring ke tepi, ke sebuah daratan lain, ke tanah yang lain, yang akan membentangkan tangan-tangan mistiknya lalu mendekap dan membenamkan bji karena tanah di mana pun tahu: sebutir biji menyimpan nasib bumi: cintanya

yang abadi.

2011
Puisi: Lobak Putih
Puisi: Lobak Putih
Karya: Inggit Putria Marga

Baca Juga: Puisi Burung Merpati
Loading...

Post A Comment:

0 comments: