Puisi: Luka Jalan Karya: Frans Nadjira
Luka Jalan

Hari ini semua koran pagi
bangun terlambat.
Luka jalan berkumpul
membawa lilin menyala
Dan sekuntum bunga angin.

Luka jalan yang menganga
siap berangkat
Dalam iring-iringan pucat
seperti keranda
Terbungkus kabut.

Mereka suka elang
karena sayapnya
menyayat awan
Hingga ke sisi tertepi.

Aku suka mereka
karena kata-katanya
Karena bau peluh mereka
yang tergenang
di kaki gunung
Kemudian mengalir ke laut.

"Jangan gusar." ujar kaisar
kepada permaisurinya,
"Walau besok dinihari
langkah bernanah  mereka                                     
akan menodai pelaminan kita."  

Lampu taman terisak
menyaksikan redup         
merangkak ke sumsum
rusuknya
Tempat matahari menatap
bayangnya
Meratap di kolam keruh.

Ketika siang membangunkan
koran-koran pagi
Rombongan luka jalan
merobohkan pintu istana.
Awan kembar menaungi mereka
dari hujan dan angin
dari gas airmata
Yang menyebar seperti wabah
Menyebar seperti kafan panjang
Yang bergelombang.
                    
Ketika malam bergerak perlahan
Dari pelabuhan kabut
Duri telah memenuhi
kamar-kamar istana yang goyah.

Luka jalan dan koran pagi
Membasahi wajah mereka
Dengan peluh yang mengalir
di alur-alur tak bertepi.
Kaisar membuka bajunya
di depan luka jalan
Foto-foto kebesarannya
meledak di udara.
Hantu tak bertopeng    
Tertancap di pisau beku.

Puisi: Luka Jalan
Puisi: Luka Jalan
Karya: Frans Nadjira

Baca Juga: Puisi 1 Bait
Loading...

Post A Comment:

0 comments: