Makhluk Ular

“Saat malam tengah purnama kerap kudengar desis, mendekat-menjauh, seperti ajakan ke surga. Di manakah kau bersarang?”

Hitam-putih yang senantiasa sejahtera di kebun kepala, yang memberimu buah-buah ranum, serta tafsir-tafsir lain dari kerimbunan metafor lelarik puisi adalah wujud lain dari sehimpun dosa dan pahala, yang jika kau cermati itulah wujudku. Bersarang di segumpal benda lunak, beranak-pinak, melahirkan generasi-generasi yang belajar menyusup ke benak khusuk para pendoa dan pendosa. Melingkar-lingkar di pagar kebun kepala, membangun sarang lain, mengeluarkan bisa umpama buih-buih mata air dari balik puisi, dan puisi adalah percakapan sehari-hari para dewa, kelakar kaum lelaki yang terusir dari kota, dari meriah warna.

Di tubuhku, mengalir air suci para dewa. Pesona dari hangat dan dingin yang amat kau kenal. Di malam yang kau kira purnama itu kujulurkan lidah, seperti membentangkan jalan di sebuah kota. Lalu kau bermimpi berjalan di situ dan mendengar desisku, mahluk ular. Bangunlah! Aku kini berada di kedua bening matamu. Akan kutunjukkan padamu sebuah telaga yang tertimpa cahaya purnama, riaknya seperti sisik-sisikku yang berganti-ganti warna. Dan kau akan melihatku sebagai wujudmu sendiri.

Desember, 2008
Puisi: Makhluk Ular
Puisi: Makhluk Ular
Karya: Fitri Yani

Baca Juga: Puisi tentang Kentut
Loading...

Post A Comment:

0 comments: