Pemetik Bunga

ka, kebersamaan kita menjelma cermin yang retak. aku tak lagi melihat sesuatu yang utuh di wajahmu. berulangkali aku berusaha meletakkan tanganku di situ, berulangkali pula tanganku berdarah. sementara kau kian mengabur dari pandanganku. aku membayangkan matamu sembab. mengutuki peristiwa yang barangkali tak kau kehendaki. di sinilah mestinya kau mengerti, apa yang layak dan patut disimpan. seperti rajutan kain yang memiliki jalinannya sendiri, sedikit saja kita salah memintalnya maka hancurlah.

ka, apa yang bisa kuterjemahkan dari perpisahan yang seharusnya tak pernah ada. bukankah kita sama-sama merekam setiap upacara dan ritual menjelang kita dewasa. bahkan sebagian dari diriku aku ikhlaskan untuk melengkapimu. sungguh aku tak mampu menjawabnya. kata-kataku tiba-tiba saja membeku. dan aku merasa ingin muntah. 

kita lahir di rumah yang sama meski dari rahim yang berbeda. aku gemar sekali melihatmu menari, sementara kau kecanduan larik-larik puisiku. senja terkadang merona di pipimu setiap kali kukatakan aku jatuh cinta pada kekasihku. aku juga masih ingat beberapa mimpimu yang kau simpan di sebuah kotak hijau, tahukah kau, kotak itu masih terpajang di antara rak buku yang tak beraturan. 

akulah yang selalu mendengar makian-makianmu terhadap ketidakadilan, membelai rambutmu yang makin panjang itu. ah, hujan memang sering sekali turun di matamu tanpa mengenal musim. aku hafal air matamu bahkan rasanya yang sedikit tawar. remah-remah hidupmu bertaburan bagai bunga kamboja di tanah makam. aku pun mencatat siapa saja yang meninggalkan tanda di tubuhmu, namun mengapa kau sembunyi dan diam-diam mencuri mata kekasihku. sehingga ia kepayahan menemukan jalan pulang.

ka, mengapa begini sulit memaafkanmu. malam ini aku terjaga hingga pagi, entah apa yang mencuri rasa kantukku. aku lelah menangis, paru-paruku menyempit. kau tahu, bukan hanya kehilangan yang paling kutakutkan, tapi juga suara-suara yang tak henti membaca mantra di kepalaku, yang menghisap sel-sel darahku. aku terus mengusirnya tapi suara-suara itu teramat kuat. aku kalah.

aku tak bisa membelokkan cerita ini, sebab peristiwa selalu dibatasi waktu. kini hiburlah dirimu dengan kebaikan-kebaikan. bunga yang kau tanam di kebun yang tak seharusnya kau masuki telah mati dengan sendirinya, namun entah mengapa bunga itu tumbuh kian rimbun di ingatanku. 

aku pergi dengan kereta malam yang penuh kekecewaan. mengunjungi seorang teman yang matanya seteduh subuh. bulan akan basah karena rindu, namun awan-awan selalu pandai menutupinya, bukan. begitu pula dengan padi-padi di sawah yang menguning, tentu pandai merunduk dengan sendirinya.

Juli, 2011
Puisi: Pemetik Bunga
Puisi: Pemetik Bunga
Karya: Fitri Yani

Baca Juga: Puisi tentang Keadilan
Loading...

Post A Comment:

0 comments: