Satu Matahari

Di batas itu, aku memilih menjadi buta.
Kenapa? Tanyamu.

Setahun yang lalu aku telah melihat sesuatu
yang tak seharusnya kulihat.
Mereka bilang: matahari.
Mataku menangkap: dia.
Tubuhku seketika mengerang oleh cahaya yang terlalu terang.  Dan terlalu gelap.
Lalu dia bergantian mendenyutkan ingin yang akut – seperti desah dalam lipatan daging.
Terang – gelap – terang – gelap.
Cadar ini terlalu tipis untuk menyembunyikan rasa.

Apa yang kau lihat di jalan itu?
Genangan air yang jadi hijau?
Merah, kataku. Hujan merah.
Di balik garis-garis basah, dia indah
dan selamanya berpendar.
Di sini, gambar-gambar memudar.

Setelah itu, mereka mencoba menghilangkan cahaya dari ingatanku.
Tapi aku masih bisa merasakan panasnya.
Kata mereka, cuma ada satu matahari.
Kataku, itu milikku.
Dan aku tak mau berbagi.

Di batas itu, aku memilih menjadi buta.
Kenapa? Tanyamu.

Entahlah. Mungkin cinta memang begitu.

17 Januari 2010: Jam 04.12
Puisi: Satu Matahari
Puisi: Satu Matahari
Karya: Avianti Armand

Baca Juga: Chairil Anwar Maju
Loading...

Post A Comment:

0 comments: