Ubud

aku tak bisa menafsir cuaca di kota ini
apalagi mengekalkannya di gelas minuman
yang kau sajikan
sementara para pendatang
bagaikan lebah-lebah
yang membangun sarang
dan kerajaan

aku berjalan di selasar pasar
mencari tanda yang kelak kuceritakan padamu:
lingkaran bunga kamboja
hijau sawah yang termenung
gemericik air
di sebersit sajak

namun aku melihat wajah kota lain 
yang menyimpan rahasia dan masa lalu.

beberapa perempuan berjalan 
menuju pura
aku melintasi mereka sambil berdoa
semoga pintu langit terbuka
semoga pohon-pohon berbunga 

malam, rembulan rebah di kafe-kafe
wangi dupa merebak dari sudut-sudut ruang
ada juga suara sungai 
yang dibiarkan mengalir begitu saja
di dada para pendatang

pesta-pesta tercipta di jalan sempit
lampu-lampu menyala di mata para penari
sementara tubuhku memelihara percakapan
bagi yang menetap dan yang pulang

malam menyusut
tubuh-tubuh kusut rebah di dada para wanita
meneguhkan mimpi
melekatkan nama 
seperti kerumun embun
memeluk daun-daun

ketika harum dupa cempaka
mulai menguar di udara
jalan-jalan meredup
aku kembali 
memunguti pecahan-pecahan garam
di sepanjang jalan pulang:
wajah anak-anak eropa
guguran bunga kamboja
juga gelas kosongmu 
yang abadi.

Ubud, Oktober 2011
Puisi: Ubud
Puisi: Ubud
Karya: Fitri Yani

Baca Juga: Puisi tentang Katak
Loading...

Post A Comment:

0 comments: