Puisi: Kesaksian Naga Merah Karya: A. Muttaqin
Kesaksian Naga Merah

Ketika aku berjaga di pintu sorga, si bangsat itu menidurkan aku.
Pelan ia baca mantra, menebar serbuk buruk agar aku mengantuk.

Saat mulutku terbuka, si bangsat itu pun melesat ke mulutku.
Menipu lidahku, ia menjelma menjadi ulat laknat dan merambat

Merambat dan terus merambat menyusuri lorong gelap perutku
tepat saat aku bermimpi Tuhan tersenyum dan dengan kun bening

Menetaskan cacing kuning di usus besarku. Di situ, cacing kuning
menjadi kekasih si bangsat itu. Dan mereka kembali merambat

Merambat dan terus merambat dari gelap ke sisa lembab ususku

Seperti bertamasya mengarungi sisi buruk sang sorga yang dulu
ditinggalkan si bangsat itu demi menjaga jarak jejak dan cintanya.

Setelah bercinta-cintaan dengan si cacing kuning, si bangsat itu
menyusuri ujung anusku, bersembunyi di balik bongkahan bolku

Menunggu aku berak agar ia dapat keluar bersama kotoranku. Saat
kotoranku keluar, si bangsat itu lalu melompat ke pelataran sorga

Celingak-celinguk seperti munyuk lepas dari lubuk kutuk dan
mencari pasangan pengantin pemula yang dari mereka (nantinya)

Lahirlah engkau, si naga buta, setelah juru tipu merekayasa kitab
dan peta baru di mana sebentang ladang nun dijanjikan menunggu.

Di ladang itu (seperti dugaanmu) si bangsat itu meniup seruling
menjaga domba-domba sahaya sembari menunggang anak lembu.

2018
Puisi: Kesaksian Naga Merah
Puisi: Kesaksian Naga Merah
Karya: A. Muttaqin

Baca Juga: Puisi tentang Mei
Loading...

Post A Comment:

0 comments: