Pagi

1.
Pagi ini uap putih yang
mengepul dari ceret lari keluar
lewat jendela yang mengantuk
lalu hilang terseret angin;
aroma kopi bercampur hazelnut
menempel pada gorden
dan kain sofa, sarung-sarung
bantal dan linen –
Tapi aku tak mengenalmu.
Rambutmu burai menyembunyikan sisa syahwat seperti
rumput di halaman belakang menyembunyikan cokelat
tanah.
: Aku tak akan menyianginya. Aku tak tahu namamu.
Seekor belalang yang takut sembunyi menggigil
di antara bilah hijau dan bola embun.
Biru memanjang pelan-pelan di atas meja
menggeser debu dan menit.
Dalam tidurmu, kau menyebutku.
: Tapi pagi masih terlalu dingin.


2.
Tiba-tiba kamu ada;
berlari sepanjang tangga setelah puas
menghitung tahun di wajah dan rambut yang tak hitam,
menggeser puting susu berbintik dengan lidah
sebanyak detik,
dan “ooh!” dan “ahh!”
Dua cangkir kopi ini:
saksi yang lugu.


3.
Ikan-ikan itu lapar, katamu –
lalu kau jatuhkan gerimis
di sekujur kolam yang
megap-megap kehabisan udara.
Ahh!
Pagi ini, kamu mencintai aku.

Jakarta, 16 September 2009
Puisi: Pagi
Puisi: Pagi
Karya: Avianti Armand

Baca Juga: Puisi tentang Jenazah
Loading...

Post A Comment:

0 comments: