Pelabuhan Sunda Kelapa

aku berkawan debu
air keruh, dan udara bertuba
langkah gontai menyusurimu
di terik siang, sunda kelapa

tongkang, perahu kayu, tiang layar
tak lagi rindu lengking camar
hanya seringai kuli-kuli pelabuhan
menahan lapar
di legam kulitnya matahari mati rasa

seorang tua menawariku bersampan
“kan kuajak kau melayari masa silam
sunda kelapa,” ujarnya

aku seperti akrab dengan senyum kakek itu
dia begitu saja muncul dari muara keruh,
di antara tongkang, perahu,
dan sampah kota jakarta

dari atas sampan, kakek bertopi pandan itu,
kembali bersuara: “anak muda,
kau seperti tak asing di mataku.
mungkinkah dulu kita pernah bertemu?”

aku hanya senyum santun
tak ada kata yang mampu
menjelaskan pertemuan

kakek itu lenyap dari pandangan
kembali kususuri jalanan berdebu
hingga ujung pelabuhan

langit tiba-tiba menghitam
di tiang layar
seekor anak camar
gemetar
menahan angin garam

di jalanan pulang
aku terkenang
kisah yang lekang
kakek tua itu adalah aku.

Sunda Kelapa, 31 Mei 2013
Puisi: Pelabuhan Sunda Kelapa
Puisi: Pelabuhan Sunda Kelapa
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Baca Juga: Puisi Cinta untuk Istri yang Jauh
Loading...

Post A Comment:

0 comments: