Penyengat

menyusuri jalan sehabis menyeberangi selat
kini aku masuk dalam pelukan penyengat*)
di benakku seperti menari raja ali haji**)
aku pun ikut menari dan membaca puisi
tanah melayu bikin hatiku rindu
di bawah langit merah dadu
wajahmu yang pesona: aku mendamba!

meniti jalan kecil dan melingkar
bagai sebatang ular
tak ke mana-mana aku akan tualang
karena sampai juga ke masjid ini
rumah-Mu yang lengang
bagiku menumpahkan segala lelah
dan menyerpih segala kisah
awal mula sejarah puisi

setiap langkahku bergerak
terasa hatiku berdetak
mencari nama yang dulu menanam arti
dalam setiap baris-baris gurindam
bagai tersimpan di batu pualam

“dan kaulah kini yang mengolah,
tanganmu tak henti mengasah
agar terus bercahaya
meski waktu tak henti
memutar matahari,” katamu

aku melangkah
ingin sekali mengolah
setiap rempah kata
yang kautanam di pohon tua
hingga menjadi buah

bahkan dari setiap batu,
jalan setapak, batang kelapa
rumput-rumput yang tumbuh
dan angin yang bekesiur
minta diolah jadi kata-kata
jadi mantera, jadi petuah!

dan bukan seperti topan
yang datang kemarin siang
di tepi pantai tanjungpinang
menerbangkan segala punya tuan
hingga takutku mencekam

meski aku lahir dari tepi laut
bermain dengan cangkang dan jukung
berselimut layar: bertegak oleh kemudi
tapi apakah laut tak pula mengirim maut?
apakah pantai selalu menghantar hidup?
dan aku sesuka memburu gelombang
bersama ratusan bait gurindam

kurapatkan tanganku di dada
dan kubuka bagi setiap yang datang
angin pantai ataupun ingatan gurindam
hingga aku terlelap dan lena oleh pesona
pada gugusan pulau di ini kepulauan

aduhai, aku terlena dalam pelukan pulau ini
seperti tak ingin kembali ke pulau seberang
sebab masjid ini telah membuat hatiku tenang
karena senja telah menghamburkan manik-manik
dan kilaunya begitu serupa wajah-Mu

: aku sudah di surga kini?

tanjungpinang 2003, 2008 - lampung 2009-2010

Catatan
*) Pulau Penyengat, tempat kelahiran Raja Ali Haji berseberang dengan Tanjungpinang.
**) adalah raja gurindam dari tanah Melayu, yang hingga kini masih dikenal dan terkenal.
Puisi: Penyengat
Puisi: Penyengat
Karya: Isbedy Stiawan ZS

Baca Juga: Tempat Wisata Viral
Loading...

Post A Comment:

0 comments: