Tulamben
untuk: riki dhamparan putra

kini aku mengerti, saudaraku
mengapa begitu damai di sini
barisan pohon lontar itu
hening merenungi cahya senja
pasrah menerima segala titah
penghabisan

di antara batu-batu lahar itu
aku lihat bayangmu membisu
seperti karang kering yang gagu

tak ada kaktus yang mampu menepis
sisa usia di setapak jalan
menuju ladang-ladang garam

ilalang telah melepas kembang
putih kemilau
serupa wajah jelita cinta
entah kemana angin membawanya

kini aku mengerti, saudaraku
mengapa laut timur begitu bisu
seperti pertapa yang memburu wahyu
aku telah paham kedalaman jiwanya
lebih dari yang kau rasa

surga memang bukan untuk orang miskin, saudaraku
namun petani tak pernah lelah membajak sawah
nelayan selalu berlagu menuju laut jauh
peladang garam masih setia menyaring keringat
menampungnya di bilah-bilah kayu sagu

dan penyair tertatih sendiri
menyisiri tepi-tepi hari
dengan arah yang tak pasti.

Tulamben, Karangasem, Bali, September 2008
Puisi: Tulamben
Puisi: Tulamben
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Baca Juga: Puisi tentang Sederhana
Loading...

Post A Comment:

0 comments: