Puisi: Ubud, Gerimis Menyapa... Karya: Wayan Jengki Sunarta
Ubud, Gerimis Menyapa...

si pemabuk itu kembali
menyusuri jalan yang sama
kini gerimis menyapanya
lebih ramah
layaknya saudara
yang lama berpisah

mungkin, gerimis rindu padanya
rindu celoteh dan igau-igau
yang membungkam malam
sebelum dia sendiri tersungkur
dihajar oleh mimpu-mimpinya

pernah suatu waktu
sembari kencing di lorong-lorong Ubud
dia mengutuki tiang-tiang listrik
dan lampu-lampu kafe
yang mencibirnya sinis

“kembalikan cahaya kunang-kunang padaku!”
teriaknya pada cahaya lampu kafe,
yang makin malam makin genit menyapa turis

terhuyung dia melangkah
menyusuri jalan yang sama,
jalan yang pernah mencegatnya
dari cinta pertama
jalan yang dulu hanya pematang sawah
jalan yang kini disesaki reklame,
hotel, ruko, dan tentu saja kafe

seorang turis perlente iseng menyapanya:
“hello, apa kau masih punya tanah,
pratima, uang kepeng, atau benda antik lainnya?
saya mau membelinya!”

belum sempat menjawab
si pemabuk tersungkur
dalam comberan yang mampet
gerimis Ubud menyelimuti tubuhnya
dengan mesra

Ubud, 9 Oktober 2010
Puisi: Ubud, Gerimis Menyapa...
Puisi: Ubud, Gerimis Menyapa...
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Baca Juga: Puisi tentang Rakyat
Loading...

Post A Comment:

0 comments: