Burung Kuntum

Aku masuk ke dalam kuntummu. Membayangkan kelopak itu seperti kepak. Di ujung daun, matahari melengkung, angin seperti suwung. Cahaya menjelma susu, meleleh, terus meleleh dalam pikiranku.

Aku masuk ke dalam pikiranmu. Mencicip susu (ah tidak, ini madu) yang menjelma burung di bibirku. Kutangkap kepak itu, sayap kemilat seperti sirip yang mengingatkanku kembali pada cahaya. Malam urung, malam meraung dalam igauku.

Aku masuk ke dalam igaumu. Susu cahaya, burung itu terbang pulang ke lumbung cemara. Cemara yang dalam igaumu menolak jadi lumbung (hanya mau jadi kayu) kembali meronta, berontak, meninggalkan derak, menjelma gaung dalam sayapku.

Aku masuk ke dalam sayapmu. Sayap yang dulu kemilat dalam igauku yang hanya angan dalam pikiranmu, menerbangkanku melambung jauh ke kota itu. Kota yang bagai melendung, bengkak, ruam menggembung, gelembung beton dalam batuku.

Aku masuk ke dalam batumu. Gagal membayangkan kuntum, sayap, kepak, bahkan walau bayanganku undur ke kelopak. Angin juga surut, undur ke gua-gua. Matahari (kuingatkan engkau, susu cahaya) garang, mengerang pulang ke dalam gelapku.

Aku masuk ke dalam gelapmu. Meraba-raba dengan pikiran kosong, hampa, dan sia-sia. Dan sungguh, wahai, sungguh tak bakal engkau percaya. Dalam kosong, dalam hampa, dalam sia-sia, kuntum itu rekah, menjelma sayap, kepak,

dan seekor burung berkoak, terbang, cegak lesat menuju cahaya.

Banjarmasin-Payakumbuh, 2007
Puisi: Burung Kuntum
Puisi: Burung Kuntum
Karya: Gus tf

Baca Juga: Puisi Islami tentang Kematian

Post A Comment:

0 comments: