Puisi: Di Sebalik Rimbun Semak Karya: Esha Tegar Putra
Di Sebalik Rimbun Semak

januari macam bulan tersungkur dalam sungai
hanyut lalu tersangkut urat mati, sepi berdiri,
berlari sampai muara. terhitung juga ini sakit
seumpama beras tanak yang berulat
mana nikmat? apa boleh buat, waktu terus laju
mirip air, mirip bulan yang terhanyut

daun sedang berdiang siang terlihat jelas di mata
berdiang pada terik. apa yang berganti biarlah berganti
macam lumut dan uap yang tiba-tiba saja lengket di kulit.

januari ini bulan tersungkur di sebalik rimbun semak
beberapa unggas mengintip (terbetik bayangan cahaya
terlepas pada sayap) lebah sedang membikin sarang
di gubuk ladang. dan para pegetah rimba sedang termenung
mungkin menerka, di batang kulit manis, apa yang bakal
melekat sore nanti. dan capung senja mulai melintas
kepulangan adalah sebuah batas dari hari yang berganti
siapakah yang ingin mencium bulan tersungkur
di sebalik rimbun semak. bisa-bisa mulut kena miang
atau disayat sembilu ilalang yang berpura diam

2008
Puisi: Di Sebalik Rimbun Semak
Puisi: Di Sebalik Rimbun Semak
Karya: Esha Tegar Putra

Baca Juga: Puisi Jakarta
Loading...

Post A Comment:

0 comments: