Lelaki Pencatat Kematian

Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Membawa harum badan, tapi mengapa aroma tanah basah begitu menggoda. Apakah kau ingin mencium aroma tanah itu walau sekejap. Ah, begitu lebih sempurna sembari menunggu malam yang masih sepotong. Izinkan aku menatapmu sekali lagi. Jangan kau buat aku meragu. sebab ada yang terus melambaikan tangan. Tapi apa berarti kau ragu membalas lambaiannya.

Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Sebab tak kudengar derit sepatu yang terseret. Selain hembusan angin yang tiba-tiba mengantar kabut. Menyayat-nyayat. Tapi benarkah kau telah menemukan suara sunyi. Seperti yang selalu kau tulis dalam sajak-sajak. Sepertinya aku menangkap isyarat itu. Aku tak kuasa menolaknya.

***

Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Sambil mengenang sebuah sajak yang ia tulis sebelum malam:
Kau membuatku gelisah
Lelaki yang menantang malam
Sendiri dalam sepi
Memuja rindu dalam irama kelu

Ingin benar  memanah mendung
Agar gerimis memburai rintik
Tapi yang tersisa hanya kabut yang memagut
Meronta dalam kelam yang kian mencekam

Ah, barangkali bulan akan lahir dari rahim langit yang menghitam
Padamu akan kukirim perasaan-perasaan yang membelenggu
Tapi kenapa  angin hadir tak berkabar tentangmu
Lelaki yang menantang malam, berkalut larut

***

Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Sajak yang terlipat-lipat ia campakkan pada kedalaman sepi. Kau terlalu lelah menghitung kematian-kematian. Aku tahu kematian-kematian adalah keindahan menuju sebuah perjamuan. Sekristal air menghiasi pelupuk mata. Tidak, aku tidak sedang menangisi kematian-kematian yang selalu kucatat.  Tapi menangisi diriku. Menangisi kematianku kelak. Maukah kau mencatat. Bisu. Diam. Beku. Lolongan anjing dan bunga-bunga bertabur.

Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Sesiapa mengetuk pintu. Nafas tersengal. Wajah memutih kapas. Barangkali kau hadir mengiringiku. Terbata membatu kau bertanya. Hanya degup jantung yang kian memicu. Tidak, bukan menjemput. Tak pula mengiring, sebab yang mengetuk pintu adalah aku. Lalu siapa yang membuka pintu.

Lelaki itu berjalan. oh bukan barangkali ia terbang. Menari-nari dalam sebuah taman. Bunga-bunga bertabur. Sungai-sungai ngalir. Wajah-wajah senyum tergores dari orang yang kematiannya ia catat.  Wajah-wajah menyambut penuh kasih. Tak sesiapa menyapa. Selain melambai-lambai. Mengajak terus menari. Menari. Dalam tarian-tarian sunyi.

***

Lelaki itu berjalan, oh bukan barangkali ia terbang. Tiba-tiba ia terkejut. Di sebuah rumah berwarna putih. Beranjang putih. Seluruh tubuhnya  menggigil. Lalu teriak. Tak sesiapa dengar teriakan. Ia edar pandang. Ia saksikan orang-orang yang telah ia catat kematiannya. Mengelilingi tubuhnya. Ia siuman. Ia siuman. Sebut salah seorang diantara kerumunan itu. Kerumunan itupun mengurai senyum.

Lelaki itu berjalan, oh bukan barangkali ia terbang. Ia senyum. Di sudut matanya mengembun air. Lalu ia kembali menutup mata. Perlahan. Sepotong malam telah ia temukan. Harum baunya. Dan malam kian menua. Kian menua. Lalu sunyi.

Yogyakarta, November 2009
Puisi Lelaki Pencatat Kematian
Puisi: Lelaki Pencatat Kematian
Karya: Budi Arianto

Baca Juga: Artikel Menarik dan Bermanfaat

Post A Comment:

0 comments: