Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Puisi: Lorosae (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Lorosae

namun senja
seakan enggan
menghapus air mata
pada cuaca

kudengar lengking camar kehilangan ibu
buih mengeluh
garis pantai cemas
seorang bocah berlari ke arah malam
menyongsong bintang biduk
yang hendak lapuk

(seperti aku mengenal wajahnya yang fana
menyembul dari gundukan candi candi pasir
seakan ingin berucap: jangan biarkan langit kembali merah!)

angin timur mengalir dari pantai
pasir pasir buyar
bau anyir
pembantaian di musim semi
kerang kerang mendadak kering
terbuka dengan daging yang meleleh
dan lokan buta menangis
udara amis

senyummu, maria, seperti bunga bungur
kuntum yang dipatahkan paksa

prahara akan kembali tiba
segera bergegas. berlindung
ke dalam mercusuar di ujung tanjung
di situ mungkin masih tersisa
penawar duka

jerit anak camar
menggigil
melihat kabut pecah
jadi buih darah
pada rongga mata
seorang serdadu tua

dalam udara amis
langit menangis
kata kata kusam
lumer dari grafiti
yang ditera dengan darah
di tembok mercusuar

kau tak akan pernah tahu
di lorosae
waktu yang setia itu
adalah seteru
yang diam diam menyusun
rencana
penghianatan
untukmu

cahaya cinta dari hatimu, maria
telah jadi ragi
hancur seperti remah roti
dan anggur yang dulu kau peras
dari tetes air matamu
telah memabukkan mereka

1999
Puisi: Lorosae
Puisi: Lorosae
Karya: Wayan Jengki Sunarta

Baca Juga: Puisi tentang Telinga

Artikel Menarik Lainnya:

0 Comments:

Posting Komentar

close