Puisi: Migrasi tanpa Akhir Karya: F. Rahardi
Migrasi tanpa Akhir

Serangga makin tipis
Tampaknya tak ada lagi pohon-pohon
Tinggal jejak buldoser
Ribuan kilometer
semua capek
mata berkunang-kunang
kepala pening
otak mampet
tulang linu-linu

Semua tampak berwarna merah
langit merah darah
cakrawala merah darah
di bawah yang tampak hanya
canggal-canggal kering
yang mencuat, berwarna merah
di sela-sela jejak buldoser

Meskipun capek, ngantuk, dan loyo,
para kampret itu terus mengepakkan sayapnya
ke arah utara
kepakan sayap itu makin lemah
tiba-tiba seekor kampret
tak lagi mampu mengepakkan
sayapnya lalu meluncur jatuh.

“Ada teman kita yang jatuh.”
“Ya, dia pasti mati.”
“Kita istirahat dulu.”
“Ya Oom, aku capek sekali lo.”
“Kenapa semua jadi tampak merah.”
“Itu kok ada pohon-pohon natal,
tapi warnanya kok merah begitu?”
“Iya, ya, semua kok tampak merah begini sih?”
“Lo, bukan hanya langit dan tanah
dan pohon yang merah.
kamu juga merah kok!”
“Kita semua merah.”
“Ya, kita jadi merah!”
“Tidak, kita tetap hitam.”
“Ya, langit ya tetap biru.”
“Tanah ya cokelat, pohon-pohon hijau.”

“Kita sebaiknya tidak terbang
pada siang hari.
Terlalu riskan.
Lebih baik istirahat di bawah sana
sebentar lagi hari akan siang.”

Kampret-kampret itu lalu menukik turun.
Hari berangsur pagi.
Suhu udara dingin,
sangat dingin.
Tapi sinar matahari
dari celah tajuk pinus itu hangat.
Belantara hutan-hutan tropis
di daratan Sumatera itu
sudah selesai dibabat habis,
diratakan.
Dibajak.
Dan kemudian tumbuh Eukaliptus,
pinus merkusi dan akasia.
Ini hutan tanaman industri Bung!
Manusia makin perlu kertas.
Untuk menulis.
Untuk bungkus kado.
Untuk dibuat majalah dan buku.
Untuk lap keringat.
Untuk cebok.
Kertas itu penting untuk manusia.
Juga tusuk gigi.
Sumpit untuk makan mi.
Peti-peti sabun.
Juga peti mati.
Semua itu penting.
Sangat penting.

Untuk keperluan sumpit,
peti mati, kertas,
tusuk gigi dan lain-lain itu,
hutan tropis ditebas habis
lalu diganti akasia,
Eukaliptus dan pinus.
Gajah tergusur.
Tupai tersingkir.
Trenggiling mati.
Kodok terpojok
dan semut-semut bangkrut.

Di tengah hutan Eukaliptus itu
ada sebuah base camp kokoh,
karena terbuat dari kayu-kayu yang bagus.
Para kampret itu masuk lalu
bergelantungan dan tidur.

“Kita capek sekali ya Oom?”
“Ya, rombongan ini tingggal berapa ekor sih?”
“Enam puluh pak.

Kemarin masih enam puluh satu.
Tapi tadi pagi kembali ada yang
nyungsep lalu matek
di tanah yang dibuldoser tadi.”

“Lama-lama habis ya kita ini.”
“Oom, kenapa kita nggak sampai-sampai
sih? Aku bosan lo?”
“Sampai ke mana?”
“Ya, kita ini mau pergi ke mane?”
“Kita tidak pergi ke mane-mane!”

“Aku bosen.
Aku bosen dengan
perjalanan panjang,
yang brengsek ini.
Aku mau berhenti di sini.
Aku capek.”
“You akan mati di sini.
Akan mati kelaparan.
Di sini tak ada belalang.
Tak ada nyamuk.
Tak ada kepik.
Tak ada kutu loncat.
You pasti mati.”
“Biarain
Semua nantinya kan pasti
mati.
Ngapain jauh-jauh amat
sampai Sumatera begini?
Enakan di Jawa sana,
Kita dapat mati
dengan sangat tenang.”
“Ya, aku mau berhenti juga.
Capek!”
“Aku juga.”
“Aku juga ogah ah kalau
terus-terusan jalan tanpa tujuan!”
“Siapa bilang kita jalan tanpa tujuan!
Jangan ngaco ngomongnya!”
“Betul Boss!
Tujuan kita sangat jelas.
Kongkrit!”
“Kedamaian abadi.
Kita menuju ke kedamaian abadi!”
“Kedamaian abadi itu kentut.
Aku jadi muak dengan slogan
gombal begitu!’
“Diam semua!
Dengarkan!
Yang masih mau jalan
ayo ikut di belakangku.
Yang ingin pulang ke Jawa
ya sana pulang.
Yang ingin tetap di sini
ya silakan.
Dari dulu kita merdeka.
Tak ada tuntutan.
Tak ada paksaan.
Jadi jangan ribut.”

Kampret-kampret itu lalu diam.
Sepi.
Hanya ada bunyi daun Eukaliptus kena angin.

“Setelah menempuh jarak
demikian jauh
kita lalu jadi dapat menikmati
perjalanan ini
tujuan lalu menjadi tidak begitu penting.”
“Jadi Gua kapur yang sepi dan nyaman tidak lagi penting Oom?”
“Tidak.”
“Hutan yang perawan juga tidak perlu lagi Oom?”
“Tidak.”
“Mau perawan kek, ibu-ibu kek,
janda, nenek-nenek,
semua tidak lagi problem.
No problem!”
“Ya, no problem.”
“Pokoknya cuek.”
“Kita jalan terus.”
“Anjing menggonggong kafilah berlalu.”
“Rawe-rawe rantas malang-malang putung.”
“Jalan adalah jalan.”
“Sumatera kita jelajahi
Acah kita tonton dari udara.”
“Ke Malaysia mau nggak?”
“Ke mana sajalah, Singapur,
Vietnam, Jepang, Kalimantan juga boleh.”
“Bagaimana kalau ke Eskimo?”
“Kutub Utara saja sekalian
kita lihat Aurora.”
“Sekalian saja ke Mars.
Planet biru ini lama-lama juga membosankan.”
“tidak.
Kita harus kembali ke Eden
Firdaus
Itu lo yang dulu pernah dihuni manusia
Adam dan Hawa lalu ditutup Tuhan.”
“Ya kita harus bermigrasi ke sana
mari teman-teman

Sumatera, gua kapur
hutan perawan
kutu loncat
semua jadi tidak penting
kita sudah menemukan kembali tujuan kita.”
“Kompas kita ketemu.
Arah itu tampak jelas sekarang.”
“Firdaus.”
“Keabadian.”
“Ya kita akan ke sana
apa pun yang kita lakukan.”
“Sekarang tidur.”
“Nanti malam kita nyaplok nyamuk
lalu terbang menjelajahi planet ini.”
“Sip.”
“Pacaran, kawin, beranak
masih boleh ya Oom?”
Tentu,
semua harus tetap normal.”
“Oom sendiri?”
“Ya, nanti juga harus kawin
sama siapa kek,
pokoknya betina
kita harus jadi banyak
dan bertahan hidup.”

Sore itu matahari
dengan anggun
dan pelan sekali
angslup di antara pohon-pohon akasia
udara jadi makin dingin
para kampret menggeliat-geliat
mencicit-cicit
menggerak-gerakkan sayap
lalu terbang meninggalkan base camp itu
dengan gembira mereka mencaplok nyamuk,
belalang, kepik dan kutu loncat
mereka terus bertambah banyak
dan terus bermigrasi
entah sampai kapan
entah sampai ke mana
menghindari keserakahan
manusia

Puisi Migrasi tanpa Akhir
Puisi: Migrasi tanpa Akhir
Karya: F. Rahardi

Baca Juga: Blog Artikel Islami

Post A Comment:

0 comments: