Rumah

Sang Guru Laki kepada Rabinya:
Rumah itu Omah
Omah itu dari Om dan Mah,
Om artinya O, maknanya langitnya, maksudnya ruang,
bersifat jantan
Mah artinya menghadap ke atas, maknanya bumi, maksudnya
tanah, bersifat betina
Jadi rumah adalah ruang pertemuan laki dan rabinya
Karenanya kupanggil kau Semah, karena kita serumah
Sapulah pekarangan rumah kita bersih cemerlang
Supaya bocah-bocah dolan pada kerasan
memanggil-manggil bulan dalam tetembangan:
-- Mumpung gede rembulane
Mumpung jembar kalangane
Suraka surak: Horee!
Na Na Na
Di kiri dan di kanan rumah ada pekarangan
Di mana biasa orang menanam empon-empon
Jahe untuk menghangatkan tubuh kalau lagi selesma
Kencur untuk ngompres kalau lagi babak belur
Kunir supaya anak yang dikandung nanti kuning lencir
Lha di pojok kanan pekarangan ada sumur
Perlu untuk membersihkan kaki kita sebelum masuk rumah
Pertanda kita selalu resik dan anteban
Tak ketempelan demit jin setan periyangan
Nah
Inilah pendapa rumah kita
Mandala dengan empat saka guru dan delapan tiang penjuru
Di atas pintu tertulis rajah:
Ya maraja Jaramaya
Yang maksudnya: Hai kau yang berencana jahat,
berhentilah berencana!
Di sinilah kita akan menerima tamu-tamu kita
Sanak kadang, tangga teparo
Yang nggaduh sawah, ladang atau raja kaya kita
Merembug sesuatu yang perlu untuk kesejahteraan bersama
Sementara di belakang pendapa ada pringgitan
di mana kelak kau bisa duduk bersila bersama anak-anak
Menyaksikan Ki Dalang Karungrungan
Menghidupkan ringgit wayang di tangannya
Medar kebijaksanaan Sastra Jendra
Lewat tutur, suluk dan tembang
Ah Ah Ah
Rumah kita bisa bak istana Junggringsalaka
Bila gamelan dimainkan
Dan waranggana nembang sahut-sahutan
Sementara digandok sebelah
Para batih serumah
Biasa silih asah, silih asih, silih asuh
Dan menyerahkan kepercayaannya dalam rumeksa kita
Somahku
Di belakang pringgitan itulah sentong
Di mana pusaka nenek moyang kita memancarkan pamornya
Keris Luk Pitu, tombak Kyai Tancep serta payung
Ra Kodanan
menjaga kita dari segala malapetaka
Di sinilah kita samadi, merukunkan diri dengan Allah
Membebaskan diri dari keterikatan duniawi
Lega, lila, legawa
Menerima nasib kita
Sebelum kupadukan tubuhku dengan tubuhmu
Sambil kutanamkan benihku
Dengan greget dan sengguh yang tak kenal mingkuh
(Kelak, memang ada baiknya kalau kita naikkan
Begawan Ciptoning, sunggingan empu Kasman
Di atas slintru sentong kita
Supaya mereka pun paham
Terkadang aku jadi Mintaraga
Terkadang pula jadi Arjuna Wiwaha
Dan kau jadi Batari Supraba)
Nah. Di muka gandok itulah sepen kita
Dengan tanda rajah:
Ya silapa palasiya
Yang maksudnya: Hai kau yang memberi lapar, berilah
kekenyangan!
Di atasnya Dewi Sri,
Di depan pintu Cingkarbala dan Balaupata
Menjaga sepen kita agar tetap sepi dari hama
Menjaga rezeki kita dari para durjana
Merekalah yang akan membuka pintu sepen kita
Bagi para papa yang membutuhkan bantuan kita
Dan akhirnya
Di sanalah garase untuk kerbau dan sapi kita!
Somahku.
Di bawah atap inilah kuserahkan sapu rumah ke tanganmu
Supaya kaupelihara rumah kita dengan premati
Jadikanlah ia kolam bagi ikan-ikan
Jadikanlah ia sawah bagi padi-padian
Jadikanlah ini rumah karena di sinilah kasih bertempat
tinggal
Buatlah slametan
Dengan gunungan nasi kuning di tambir
Iwak ingkung, beserta uba rampenya
Setikang setikung
Gedungku watu gunung
Siapa mengharu biru milikku
Jadilah mangsa Kalabendu
Hu!

--------- 
Rabi Sang Laki:
Katakanlah, wahai katakanlah
Di mana angin bersarang,
Gelombang tidur
Awan melepaskan penatnya
Dan hari merebahkan diri
Katakan o katakanlah Guru Lakiku
Di mana orang-orang papa
Bakal kautempatkan dalam rumah kita?!

Puisi: Rumah
Puisi: Rumah
Karya: Darmanto Jatman

Baca Juga: Puisi tentang Kampung

Post A Comment:

0 comments: