Sayap-sayap Kita
Selvi Yenti

Aku datang. Kemana pergi. Ke jalan pulang, dan aku menunggu di sana. Kapan kau datang. Kau bersayap di punggung. Aku bersayap di dada. Dada dan punggung bertemu di ranjang. Kapan bertemu. Kapan pulang. kapan pergi. “Sebab itu kita senang pulang dan pergi.” Kau pergi dengan sayap di punggung. Aku pergi dengan sayap di dada. Terbang dan menjalar ke awan. Mendarat pada landas dan cengkrama. Sebab itu kita tak saling mengabar kapan pergi, kapan pulang. “Seperti roda tak saling betemu siapa yang mendahului, siapa yang tertinggal.” Tumit kita selalu ke belakang. Kecuali saat senam pagi, tumit kita di wajah. Ujung-ujung jari kita bergerak maju. Aku naik dari sisip sayapku satu-satu, mengepak satu-satu ke bumi, sebab ia tumbuh di dada. Sayapmu mengepak ke langit. Ia tumbuh di punggung. Sayapmu mudah berbulu. Seperti bulu ranjang selalu kapas-kapas terbusai. Harum-harum sayap pertemuan. Kabarnya dari langit, kabarnya dari bumi. Selalu saja bertemu dan berbenang ini bumi, ini langit. Sayap-sayap kita terbang di antaranya.

Padang, 13 Januari 2011
Puisi: Sayap-sayap Kita
Puisi: Sayap-sayap Kita
Karya: Alizar Tanjung

Baca Juga: Lagu Indonesia Campuran
Loading...

Post A Comment:

0 comments: